Luka Itu Masih Menganga

Aku tidak berharap kau membaca catatan kecil ini. Aku juga tidak berharap kau menghayati atau merasa empati. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang telah aku rasa selama ini. Rasa sakit yang aku pendam lebih dari setahun. Rasa sakit yang tak kunjung mereda. Aku masih tetap meronta di balik selimutku. Merintih merasakan sakitnya, menitikkan airmata agar tak ada satupun orang yang tahu bahwa aku menangis.
Aku tidak menyalahkanmu. Sungguh, tidak. Jadi kau tak perlu merasa bersalah. Bukankah ini kesalahanku sendiri yang tak pernah bisa menjaga hati? Aku terlalu bodoh untuk melakukannya. Kadang aku berfikir, kenapa dahulu aku memberikannya? Padahal aku tahu, kau tak halal bagiku. 
Padahal aku tahu kau adalah sosok laki-laki yang pikiran dan hatinya tetap laki-laki. Kau inginkan yang terbaik untukmu. Silahkan, aku tak akan menghalangi. Aku bahagia bila melihatmu bahagia, karena memang aku... aku... oh maaf tak pantas aku mengucapnya lagi. Dan aku tahu kau pasti juga jijik mendengarkannya.

Lukaku masih menganga sama seperti pertama kali kau katakan itu padaku. Rasanya perih tak terarah. Lukaku masih tetap menganga, tapi aku akan terus mencoba untuk melupa. Aku yakin suatu saat nanti perih dan sakit ini akan menjadi sesuatu yang lebih indah. Karena beginilah sesuatu yang lebih barokah.
Aku tahu, kau selalu mencari yang terbaik untukmu dan kehidupanmu kelak. Untuk itu, sekali lagi aku tak akan pernah menghalangimu. Capailah cita-citamu, dan biarkan saja lukaku tetap menganga. Jangan khawatir, Allah tidak akan pernah meninggalkanku walau kau jauh.

Doaku akan selalu menyertaimu. Semoga Allah juga senantiasa menjagamu. Mungkin cukup sampai di sini. Semoga engkau bahagia selalu. Selamat tinggal!

Aku tak akan menangis. Aku janji. Insya'Allah.

1 comments

CINTAKU UNTUKMU

Hanya satu cintaku di dunia ini
Hanya satu pula harapku
Hanya ada satu bintang
Yang slalu menghiasi malamku
Dan hanya satu bunga
Yang slalu bersemi di hatiku
Itu engkau!!!
Engkaulah pangeran
Yang slslu hadir disetiap tidur lelapku
Engkaulah cahaya hatiku
Kau terangi gelapku
Hapuskan semua kesedihanku

Aku cinta padamu
Dimanapun kuberada
Dan di setiap waktuku
Meski selmanya kau takkan pernah tau
Rasa cintaku padamu
Meskiun jua kita takkan pernah bersatu
Namun, cintaku slalu untukmu
Kan kupertahankan cinta ini
Untukmu selalu
Hingga akhir hayatku

Tertanda: 3 Februari 2009

0 comments

Dalam Malam

Dalam heningnya malam
Dingin merangkulku

Desiran angin seolah mengingatkanku
Akan sesuatu
Apa itu…………….?

Aku tak tau

Tahta bintang seakan tersenyum
Menyambut ketulusan dalam jiwa
Mengerat untaian permata
Dalam cakrawala malam


Mata terpejam
Lalu Engkau datang dalam tidur lelapku
Bisikkan ayat-ayat ketulusan di telingaku
Hingga buatku terjaga

Kubasuh air ke tubuhku
Kain putih membelitku

Kkubersujud dalam singgasana sunyinya malam
Tengadahkan telapak tangan
Mengagungkan kebesaran-Mu
Panjatkan doa dan istighfar


Tertanda: 23 Februari 2009

0 comments
Labels: , ,

NGGAK GALAU, NGGAK EKSIS!

“Jadi remaja kudu galau! Nggak galau, nggak eksis.”
Lhoh, kok begitu? Eitz, tunggu dulu remaja! Jangan berkerut-kerut dahinya, nanti cepet keriput, lho. Mau? Usia remaja merupakan usia yang indah penuh gairah. Namun, usia remaja juga merupakan usia yang rentan dengan ketidakpastian dan mudah terombang-ambing. Masa muda pun bisa menjadi tolok ukur eksistensi ketika nanti telah dewasa. Ibarat pisau, makin diasah makin tajam dan berkilauan. Pisau itu akan lebih sering digunakan dari pada pisau yang tumpul, bukan? Nach, inilah analogi eksistensi ini. Lantas apa hubungannya dengan galau?
Menurut KBBI, kegalauan merupakan pikiran yang kacau tidak karuan. Makna yang terkandung adalah negatif. Namun, mari kita positifkan makna tersebut bahwa pengertian galau remaja adalah memikirkan dan mengkhawatirkan suatu permasalahan dalam kehidupan. Tidak berhenti sampai di sini, namun kita perlu melakukan pergerakan dan gebrakan yang positif untuk menyelesaikan masalah tersebut. Memberi solusi, tidak hanya menggalau tak jelas.
Remaja!
Ingat bahwa kelak nanti kita ditanya, untuk apa usia remaja kita gunakan? Nach, maka dari itu saatnya kita menggalau dan melakukan pergerakan, memberi kontribusi untuk agama Islam yang diridhoi oleh Allah SWT. Coba kita tengok kondisi remaja Indonesia sekarang ini yang carut-marut. Tidakkah kalian merasa galau akan kondisi tersebut? Remaja yang tak karuan, hidupnya cenderung meniru-niru orang Barat, berbuat cabul, bertabaruj, free sex, gaya hidup anak punk, miskin ilmu agama, gak pernah ngaji lagi. Astaghfirulloh, sungguh sangat merugi.
Tidakkah kalian galau? Mari kacaukan pikiran kita dengan hal yang positif, membuat jejak di usia belia ini. Ukir perjuangan di jalan dakwah yang dirahmati, agar hidup lebih bermanfaat. Jangan biarkan kekacauan ini terus berkelanjutan, karena kalau hal ini dibiarkan, kapan Islam akan jaya?
Umat muslim itu ibarat bangunan, harus saling menguatkan. Bila ada satu yang runtuh, maka yang lain juga akan runtuh. Umat muslim juga ibarat satu tubuh. Apabila ada bagian tubuh yang sakit maka yang lain akan ikut merasakan sakitnya. Dalam buku New Quantum Tarbiyah yang ditulis oleh Ustadz Sholihin Abu Izzudin, mengungkapkan tentang The Broken Windows Theory, ”Bila ada sebuah kaca rumah yang dipecahkan dan dibiarkan, maka akan ada kaca-kaca rumah-rumah lain yang juga hancur.” Maka, kita benar-benar harus bergerak, membenahi diri dan berdakwah agar generasi muslim berjaya.
Mari kita dendangkan nasyid “JEJAK” sejenak:
Kami adalah tentara Allah
Siap melangkah menuju ke medan juang
Walau tertatih kaki ini berjalan
Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan

Wahai tentara Allah bertahanlah
Jangan menangis walau jasadmu terluka
Sebelum engkau bergelar syuhada
Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah
Wahai remaja muslim, tentara Allah! Ayo, kita bersama-sama bergandeng tangan menapaki perjuangan dakwah hingga akhir hayat! Tegakkan syariat Islam. Kawan muda, gunakan waktu kita untuk hal-hal yang positif. Jangan terpengaruh pergaulan remaja saat ini, karena akan menjerumuskan dirimu dalam lembah kenistaan. Berkumpul dengan orang-orang sholeh lebih menenangkan, bukan? Terus melangkahkan kaki menuju jalan dakwah, niat dengan kaffah karena Allah semata, menghiasi masa muda dengan penuh makna, agar kelak menjadi berguna bagi agama, orangtua, nusa dan bangsa. Aamiin.
Oleh: Novitasari Mustaqimatul Haliyah

0 comments

Ubah Mindset Kita!

Kadang kita berfikir, “Huh, alangkah membosankan mata kuliah ini. Ngantuuuk, pusing, susaaah. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan .”
Ayo ubah cara pandang kita, kawan! Semuanya tidak ada yang sulit, tidak ada manusia yang bodoh. Yang membedakan antara manusia satu dengan manusia yang lain adalah seberapa keras usaha kita dalam mempelajari ilmu. Tidak ada satu mata kuliah yang sulit dan tidak berguna. Yang ada hanyalah baying-bayang kita, kemalasan dan ketakutanlah yang membuat orang merasa bosan mempelajari ilmu pengetahuan.
Tanamkan pada diri kalian bahwa kalian, “BISA”. Janganlah berfikir kalau kalian tidak bisa. Pikiran adalah magnet kawan. Jadi jangan sekali-kali berfikir kalian tidak bisa. Bila fikiran sudah mengklain tidak bisa maka sel-sel otak akan bereaksi, dan kalian benar-benar tidak bisa. Berusahalah berfikir positif! Karena pikiran yang positif ternyata juga memperpanjang usia kita. Berfikir positif membuat tubuh sehat, fikiran fresh dan tidak mudah stress.
Semua orang pasti ingin sukses dalam segala bidang. Kesuksesan pun hanya bisa diraih apabila kita berfikir positif dan berani menatap atau menantang dunia, berfikir out of box. Kebanyakan dari kita ingin sukses tapi takut menjadi sukses. Lalu apa yang terjadi? Kita hanya berpangku tangan menunggu hujan emas, tanpa menjemput kesuksesan itu dengan kerja keras. Kita telah terpasung oleh harapan-harapan kosong. Kesuksesan hanya menjadi angan-angan? RUGI BESAR!!! GULUNG TIKAR! Lantaran ketakutan menghadapi kesuksesan, rela menjadi sampah Negara.
20 Oktober 2011

0 comments
Labels: ,

Muslimah Disayang Rasulullah? Yuuks!

Menjadi muslimah yang disayang Rasulullah itu wajib. Menjadi sholihah itu harus! Memang mungkin sulit menjadi seorang wanita sholihah, namun kita harus selalu berusaha menjadi perhiasan dunia yang paling indah, yaitu menjadi wanita sholihah yang disayangi Rasulullah.
Beberapa waktu yang lalu, saya mengadakan kajian mandiri. Materinya diambil dari apa yang telah diutarakan oleh almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh mengenai "Menjadi Muslimah yang Disayangi Rasulullah." Ok, bagaimana sich caranya biar kita dicintai oleh sang manusia sempurna pilihan Allah ini???
Wanita sebagai Faqihah Lidiiniha, seorang muslimah hendaknya faqih (paham) terhadap agamanya. Setelah itu ia harus mengamalkannya sesuai tuntunan Rasulullah. Muslimah juga harus selalu belajar dan memperkaya diri dengan terus belajar dari guru yang jujur, lewat kajian-kajian syar'i, dan tak lupa untuk menyampaikannya kembali. Ingat, Rasulullah pernah berpesan,"Sampaikanlah walau hanya satu ayat!" Dahulu kala banyak anggapan bahwa wanita itu tidak perlu belajar tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya juga di kasur, dapur dan sumur. Huft, saya paling tidak setuju dengan persepsi itu, sempit sekali pemikirannya. Memang kodrat muslimah itu berada di ranah 3Ur(Kasur, dapur, sumur) tadi, tapi bukankah seorang muslimah itu juga diwajibkan untuk menuntut ilmu? Apalagi seorang wanita atau muslimah itu merupakan madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak. Seorang muslimah yang telah berkeluarga hendaknya mengupayakan kesuksesan dalam mendidik anak-anaknya. Yang belum berkeluarga pun seharusnya mempelajari bagaimana cara mendidik anak dalam Islam, karena ilmu tersebut fardhu 'ain, hukumnya sama seperti kalau mempelajari sholat, mempelajari wudhu, shoum, dan lainnya. Maka, muslimah itu harus cerdas dan terampil dalam segala hal.
Sebagai aktivis dakwah, kepedulian kita tidak hanya pada masalah eksternal tetapi juga masalah internal keluarga. Maka jangan melulu berdakwah untuk orang lain sedang keluarga dilupakan dan tidak dipedulikan.
Lalu terakhir yang ingin saya sampaikan yaitu mengenai naafi'ah fi taqyiiri biiatiha. Seorang muslimah harus selalu peduli dengan lingkungannya. harus selalu membuka mata dan telinga untuk mengetahui kondisi lingkungannya, berusaha menjadu unsur perubah dalam lingkungan, menjadi sosok inspiratif.

So, semangat kawaaaaan! Bismillah, ayooo jadi muslimah yang disayang Rasulullah!

Oleh: Novitasari Mustaqimatul Haliyah
Sumber: Kajian Mandiri melalui Bunga Rampai

0 comments

Aku Ingin Sekolah


Ini merupakan coretan dan gambaran dari anak-anak terlantar yang ingin sekali bersekolah. Tetapi keadaan hanya memungkinkan mereka gigit jari dan meluapkan keinginannya dalam bentuk coretan sederhana ini.
Lihat diri kita, kawan!
Kita telah mendapatkan fasilitas gratis dari orangtua kita untuk bisa mengenyam pendidikan, untuk bisa duduk di bangku sekolahan dan kemudian akan dikenal dengan kaum intelek. Namun apa yang sesungguhnya terjadi? Sekolah hanya menjadi ajang karena gengsi. Sekolah hanya dipakai untuk ajang penghambur-hamburan uang. Sesungguhnya, kau telah merampas hak milik mereka yang berkeinginan tinggi unttuk sekolah. Karena apa? Karena kita tak pernah serius sekolah.

Banyak dari mereka yang susah payah membiayai sekolah mereka, banting tulang kesana-kemari. Sementara kita sudah dibiayai, malah berpangku tangan tidak serius dalaam belajar. Ayo mulai berfikir kawan!
Sesungguhnya kita punya banyak kesempatan untuk menolong mereka. Dengan kita belajar serius, lulus, dan kita ciptakan lapangan pekerjaan baru untuk orangtua-orangtua mereka agar bisa membiayai sekolah anak-anaknya.

Oleh: Novitasari Mustaqimatul Haliyah

0 comments
Labels:

Kini

Ternyata engkau menyadari.
Ternyata engkau mengerti.
Aku kira selama ini, engkau hanya berpura-pura mengerti.
Aku kira selama ini, engkau hanya berlagak memahami.


Kini aku yang mulai tak mengerti tentang gejolak itu.
Tiba-tiba api itu membara, melejit bak loncatan bunga api dalam listrik.

Kini aku yang buta...
Kini aku yang tak tahu diri...
Maafkan aku yang telah menlukai
Maafkan lidah ini...
Aku tak bermaksud,
Aku keceplosan
Mungkin itu luapan hati
Atau mungkin juga luapan emosi...




Oleh: Novitasari Mustaqimatul Haliyah

0 comments
Labels:

BINATANG JALANG


Di peron stasiun balapan, tampak orang berdesak-desakan, pedagang-pedagang asongan yang menjajakan makanan dan rokok, mahasiswa-mahasiswi menenteng tas dan koper besar hendak pulang ke kampung halamannya karena ini menjelang hari lebaran, terlihat juga kurir kereta api yang asyik mengatur penumpang dan terlihat juga pencopet-pencopet yang tengah beraksi. Pemandangan ini sudah biasa terjadi. Tidak ada yang istimewa. Namun, tampak lelaki tua bertopi koboy, sepatu hitam mengkilat, dan kacamata hitam berdiri di antara peron-peron stasiun itu yang sedikit menarik perhatianku. Setengah-setengah ia menilik jam tangan yang bertengger di tangan kanannya, dan setengah-setengah ia mondar-mandir menengok kanan-kiri seolah mencari sesuatu.
Karena terlalu lelah berdiri mondar-mandir dan lelah memandang lalu-lalang orang yang tak karuan, lelaki itu pun memutuskan untuk duduk sejenak. Tampak juga gadis setengah baya yang sangat anggun dan cantik. Ia cukup sopan dengan memakai rok abu-abu sepertiga dan hem hitam seperti orang kantoran.
“Aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang,” ungkap gadis itu layu mengumandangkan syair Chairil Anwar.
Gadis itu menengok ke arah lelaki tua itu lalu ia tersenyum sangat manis. Kemudian mulai membuka pembicaraan.
“Pak, aku ini binatang jalang,” ujarnya tak pernah kuduga.
Lelaki itu tak menggubris apa yang ia katakan, ia sibuk membenahi topinya yang miring.
“Pak, aku ini binatang jalang,” lagi-lagi gadis itu berujar demikian.
Lelaki itu tetap tidak mempedulikannya. Namun, sang gadis terus mengatakan kalimat yang sama.
“Pak, aku ini binatang jalang. Bapak tahu tidak?!” tanyanya pada lelaki tua itu dengan sedikit menyentak.
“Maaf, maksud Adik?” Lelaki tua mulai angkat bicara dan sedikit menaruh perhatian, disingsingkannya lengan bajunya yang kedodoran.
Mendengar lelaki itu bertanya demikian, ia tersenyum.
“Saya ini binatang jalang seperti puisi Chairil Anwar. Saya ini bukan manusia, tapi saya binatang,” katanya kemudian membuat lelaki itu semakin tidak mengerti.
“Maksud Adik bagaimana?” Tanya lelaki bertopi koboi, semakin penasaran.
“Aku ini bagai babi yang dikuliti,” ungkapnya kuyu nan sayu.
“Aku ini najis, najis dan najis sekali. Sudah babi masih dikuliti pula,” katanya kemudian semakin sulit untuk dipahami.
Dengung kereta yang menggaung membuat suasana peron yang ramai semakin membuncah tak karuan. Lelaki tua bertopi itu masih duduk di samping sang gadis. Tak disangka ia malah semakin mendekat. Ia mulai angkat bicara lagi.
“Bapak tahu siapa saya?” tanyanya.
Lelaki itu pun menggeleng.
“Aku ini anaknya tukang becak yang ada di seberang sana. Mereka sering menyebut bapak saya dengan sebutan Atmo. Bapak tahu bapak saya?” tanyanya lagi membuat lelaki itu semakin tak mengerti arah pembicaraan.
Laki-laki itu menggeleng lagi.
“Bapak saya mungkin bukan orang politik, bukan orang pemerintahan dan bukan artis yang banyak dikenal orang. Lha wong bapak saya hanya tukang becak biasa. Tapi bapak saya terkenal di lingkungan stasiun ini,” ungkapnya sambil tersenyum.
“Tahu tidak, Pak. Saya ini binatang jalang? Saya ini babi yang tiap hari dikuliti dan dimakan hatinya?” tanyanya tanpa ekspresi.
Lagi-lagi lelaki tua hanya menggeleng. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, ia pun berusaha mengusap dengan sapu tangannya.
“Bapak mau makan hati saya?”
“Maaf, adik dari tadi ngomong apa bapak tidak paham. Kok, bapak disuruh makan hati Adik? Maksud Adik, saya ini kanibal?” Tanya lelaki tua, heran.
“Jawab dulu, Pak! Apakah Bapak mau makan hati saya? Kalau iya, saya dengan senang hati akan memberikannya pada Bapak.”
“Saya bukan kanibal, Dik. Saya hanya tua renta yang sudah tidak berdaya.”
“Kanibal atau bukan tapi Bapak punya nafsu, bukan?”
“Sudah barang tentu.”
“Kalau begitu makanlah hati saya.”
“Maksud adik?”
“Laki-laki zaman sekarang memang sok suci,” cibir gadis itu kemudian.
Ia pun sedikit menyingkap roknya hingga terlihat pahanya yang aduhai. Putih dan sangat mulus. Gadis itu sedikit menaikkannya lagi hingga lelaki tua itu mulai tertarik. Lelaki itu menelan ludahnya.
“Sudah saya katakan bukan? Saya ini binatang jalang yang tak lebih baik dari babi yang dikuliti. Bahkan babi yang dikuliti dan bunting sekalipun mungkin lebih suci dibanding diri saya ini.”
Lelaki itu sudah menangkap apa yang gadis itu utarakan sejak tadi.
“Adik ini wanita panggilan?” ujar lelaki itu keceplosan.
“Yaaah, terserahlah Bapak mau manggil saya apa. Tapi inilah kenyataan,” balasnya seolah pasrah.
“Kenapa bisa begitu? Kenapa adik bisa terjerumus ke dalam hal-hal itu? Itu terlarang.”
“Bukan keterpaksaan, bukan karena kerelaan tapi karena diri ini memang pantas. Mungkin Tuhan telah merencanakannya,” jawab gadis itu nrimo.
“Tapi Tuhan tidak menginginkan hamba-Nya seperti itu. Itu perbuatan terlarang. Apa lagi ini bulan puasa,” ungkapnya sok menasihati.
“Kalau Bapak tahu hal itu perbuatan terlarang mengapa Bapak masih berbincang-bincang dengan saya? Tidakkah Bapak ke sini untuk mencari seorang wanita?”
Lelaki tua itu terbelalak. Keringat dingin kembali mengucur deras dari pelipis dan seluruh tubuhnya. Ia kaku, tertembak mati.
“Sudah lama saya tidak terima orderan, Pak. Saya lagi butuh,” ungkap sang gadis bermaksud menawarkan diri.
“Lalu apa hubungannya dengan saya?”
“Tolong saya, Pak! Saya sedang butuh. Kalau saya tidak dapat pelanggan, nanti bapak saya marah dan memukul saya.”
“Jadi Bapak adik yang rela menjual adik?”
“Saya tidak menyalahkan bapak saya, Pak. Inilah takdir yang harus saya jalankan. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, juga tak pernah menyalahkan diri ini.”
“Tapi kenapa harus menjual diri, Dik? Kenapa tidak mencari pekerjaan lain?”
“Dengan apa, Pak? SD saja saya tidak lulus, mau mencari pekerjaan dengan apa? Saya ini jujur, Pak. Saya tidak ingin seperti pejabat-pejabat  yang memanipulasi data. Ngakunya lulus S-1 ternyata SMP saja tak lulus.”
Dalam hati lelaki tua itu pun membenarkan apa yang telah dikatakan gadis ini. Tapi, setelah mendengar pernyataan itu tubuh laki-laki itu menjadi panas-dingin tak karuan. Jantungnya berdetak sangat kencang.
“Saya tak punya ijazah, Pak. Saya juga tak punya ketrampilan. Modal saya yaaa hanya awak ini. Yang saya bisa berdayakan dan saya jual bukan otak, Pak. Tapi tenaga saya dan hati saya.”
Lelaki itu hanya terdiam merenungkan semua ini. Kemiskinan, kecurangan dan ketidakadilan telah menjadi api.
“Ayolah, Pak! Tolonglah saya! Saya sedang butuh uang, sudah dua hari kami tidak makan,” pintanya pada lelaki itu.
Tanpa pikir panjang lelaki itu pun mengeluarkan dompet. Dompetnya tebal, banyak warna kertas yang tersimpan di dalamnya dan lelaki itu mengambil selembar kertas warna merah muda. Lalu ia mengulurkan selembar uang itu dengan gemetar pada gadis itu. Tapi gadis itu menolaknya.
“Saya tidak terima uang sebelum saya melakukannya karena itu kewajiban saya,” ungkapnya polos.
“Saya ikhlas memberikannya, Dik. Terimalah!” paksa sang lelaki.
“Tidak! Saya harus melakukannya dahulu baru saya akan menerima uang itu,” katanya ngotot.
“Saya berikan dengan percuma, tak usahlah Adik melakukannya. Saya punya istri, sebentar lagi istri saya datang menumpang kereta itu.”
“Saya tetap tidak mau! Saya bekerja, saya terima penghasilan!” gadis itu semakin ngotot, memaksakan dirinya, mencoba professional terhadap pekerjaannya.
“Tak perlu repot-repot!” ungkap lelaki tua agak kasar.
“Kalau begitu saya akan melaporkan Bapak pada istri Bapak kalau Bapak telah memberi saya upah karena saya telah melayani Bapak,” gadis itu mulai mengancam.
“Maksud adik?”
“Ya, saya akan bilang ke orang-orang dan ketika istri bapak nanti datang saya akan bilang kalau bapak telah memperdayakan saya. Lalu bapak mengupah saya!”
“Adik tidak bisa melakukan hal itu! Saya tidak melakukan apa-apa terhadap adik.”
“Tapi saya ingin Bapak melakukannya! Sekarang! Atau kalau tidak…..” nadanya setengah mengancam.
“Kalau tidak…?!”
“Nyawa Bapak ada di tangan saya. Karir Bapak pun ada di tangan saya. Sebab saya tahu, Bapak ini siapa.”
“A..a..adik tahu saya?” Tanya lelaki itu semakin gemetar.
“Ya. Akan kubocorkan seluruh rahasia Bapak pada masyarakat,” ancamnya penuh dengan kemenangan.
Suasana di stasiun semakin ramai. Orang berdesak-desakan mengantre karcis. Sedang kereta jurusan Yogya-Solo telah bertandang datang. Itu berarti istri lelaki tua itu akan segera turun dari kereta dan mendapatinya. Kalau lelaki itu tidak segera menyelesaikan duduk perkara ini, maka masalah akan semakin bertambah panjang. Kalau lelaki itu menuruti permintaan gadis ini, istrinya yang akan menjadi taruhan. Kalau tidak menurutinya, karirnya juga yang akan menjadi taruhan. Bagai makan buah simalakama. Serba salah.
“Bagaimana Bapak?” tanyanya manja.
“Baiklah, saya akan menuruti kemauanmu,” keputusan lelaki itu kemudian..
“Kalau begitu mari ikut saya!” ajak gadis itu sambil menggandeng lelaki tua itu dengan bangga.
Mereka berjalan meninggalkan peron stasiun menuju tempat terkutuk. Sejam sudah mereka melakukan perjalanan. Lelaki tua itu pun mulai kelelahan. Ia merasakan sensasi yang tiada batas. Sensasi yang tak pernah ia temui dan dapatkan selama ini. Namun, ia segera tersadar, ia telah hanyut dalam rayuan. Kemudian ia segera bangkit dari tempatnya. Ia teringat akan istrinya. Istrinya pasti sedang menungginya di peron stasiun. Lelaki itu bimbang. Perbuatannya tak boleh diketahui oleh istrinya, ia juga harus memastikan bahwa gadis muda itu tak akan menjadi ancaman untuk karirnya lagi.
Semenjak saat itu, gadis yang mengaku binatang jalang itu tidak pernah lagi mondar-mandir di peron stasiun balapan, tak pernah lagi menjajakan dirinya untuk dibeli. Ia lenyap ditelan kesadisan. Ia sudah tidak bisa ditemui oleh siapa-siapa lagi. Ia telah menghilang bersamaan hilangnya kehormatan. Babi yang dikuliti, katanya. Babi bunting telah pergi.

 Catatan:
Tulisan ini ditulis pada tanggal 23 April 2012, karena fikiran lagi buntu dan tak tahu harus menulis apa sedang dipaksa untuk menyetor tulisan. Jadilah tulisan yang seperti ini. Aku pun tak tahu apa yang telah aku tulis.
Maaf kalau ada kata-kata yang kasar dalam cerpen ini.

0 comments
Labels:

HAMPARAN SAKURA


“Dik, Kau masih menginginkannya?” seorang pemuda bertanya pada adik perempuannya.
Sang adik tertunduk, jilbabnya yang rapih ia biarkan berkibar diterpa angin. Pipinya merona menahan isak tangis, lalu dengan lirih ia menjawab, “Iya Kak, Ita sangat menginginkannya. Ita akan menjaga hati untuknya.”
Sang kakak menghela nafas panjang.
“Kenapa kau begitu menginginkannya? Tidakkah kau menyesal dulu kau pernah terluka karenanya? Kenapa kau tak membuka hatimu untuk yang lain saja?”
“Hatiku sudah tertambat padanya, Kak. Ita tak bisa melupakannya dan tak bisa pula membuka hati untuk yang lain. Aku menyukainya, Kak. Maafkan Ita.”
“Baiklah, terserah engkau saja. Semoga jodoh!”
Kakaknya meninggalkannya dengan berjuta misteri. Namun, cukup melegakan hati Ita dengan kalimat terakhir kakaknya. “Semoga jodoh” kata-kata yang selama ini dinanti-nantikan oleh Ita.
Sejak kecil  Ita sangat tertarik padanya. Entah apa yang membuatnya begitu terpesona sehingga keinginan untuk memilikinya begitu menggebu-gebu meski kini ia telah menjadi mahasiswa semester dua. Memang jika dipandang ia begitu indah dengan segala apa yang teranugerahkan padanya. Keren, beken, kaya, penuh nuansa, pintar, cerdik, ganteng, ramah, penuh dengan keceriaan, kerja keras, pantang menyerah, sungguh sempurna. Siapa orang yang tidak kagum memandangnya?
Burung-burung telah kembali keperaduan, mengepakkan sayap-sayapnya dengan luwes, indah nian bergerombol membentuk formasi berbentuk huruf V. Matahari pun tampak kelelahan bekerja sepanjang siang menerangi bumi. Namun di serambi rumah, Ita masih sibuk dengan seabrek aktivitasnya. Di hadapannya terbuka sebuah notebook mini pink, bergambar bunga-bunga sakura, bolpoin pink juga bergambar bunga sakura, semua yang dihadapannya bergambar bunga sakura. Ia begitu menyukai sakura. Ia ingin pergi ke negeri sakura.
Tiba-tiba ada sebuah bayangan.
“Aishiteru, Ita-Chan.”
Mendengar kalimat itu, mata Ita berkaca-kaca. Ita tak menyangka kalimat itu terucap darinya.
“Kaukah itu? Kau yang kucinta? Kau yang kudamba sejak dulu? Benarkah itu kau?” Ita mencoba memastikan.
“Iya, ini aku. Aku datang untuk menjemputmu,” bayangan itu tersenyum manis.
Namun kala itu, hati Ita menjadi ragu. Ia juga mencintai kakaknya. Ia tak mau meninggalkan kakaknya untuk pergi bersamanya. Ita tertunduk.
“Kenapa Ita sayang? Ayo, ikut bersamaku! Bukankah kau mencintaiku dan ingin bersamaku?” bujuk bayang-bayang itu memantapkan hati Ita yang ragu, seolah ia tahu gejolak hati Ita waktu itu.
Ita masih tetap tergugu, berkecimpung dalam dunia khayalnya. Perdebatan batin akan siapa yang ia pilih menjadi topik utama dalam khayalannya. Ita tetap diam.
“Ita-Chan!”
Bayangan itu membuyarkan khayalannya. Namun meski begitu Ita masih enggan menjawab. Lidahnya kaku, pikirannya tertuju pada kakak tercintanya. Ia bimbang. Dahulu Ita sangat mendambakannya, tapi ketika ia datang? Hatinya malah menjadi tak karuan.
“Ita…Ita…! Bangun!” suara itu berubah menjadi suara kakaknya yang lembut.
“Kau bermimpi?” lanjutnya.
Ita mengangguk.
“Ita bermimpi tentangnya, Kak,” pengakuan Ita.
Raut wajah kakaknya berubah seketika, berkerut dan cemberut.
“Kak!” ujar Ita dengan ragu.
“Bolehkah Ita…?”
“Ita, kalau memang itu yang membuatmu bahagia kakak rela.”
“Bagaimana denganmu, Kak?”
“Pergilah!”
“Tapi Kak…”
“Pergi, Ita! Pergi saja!”
“Ita tak ingin kakak sendirian.”
“Pergi!”
“Kak, Ita sayang kakak.”
“Pergilah! Kakak tidak sayang padamu.”
“BOHONG! Kakak mencintaiku. Kakak pasti menyayangiku. Kakak itu kan kakaknya Ita. Tak mungkin kakak tak sayang.”
“Kakak tidak sayang padamu Ita! Aku ini sekarang bukan kakakmu, kau mengerti?!”
“Kakak jahat!”
Ita pun berlari, matanya berlinang air mata. Asanya telah hancur. Namun belum sampai di depan pintu kakaknya memanggilnya. Ia berusaha mencegah Ita pergi. Ia tak sanggup kehilangan adik tercintanya yang selama ini menemaninya. Ibunya telah lama pergi untuk selama-lamanya. Sedangkan ayahnya? Ayahnya menelantarkan mereka. Ayah mereka menjadi pebisnis besar di negeri sakura.
Kakak Ita berusaha keras memanggil adiknya. Berteriak sekuat tenaga namun Ita telah pergi darinya selama-lamanya. Telah menghilang dari pandangan matanya, hanya silau cahaya yang tembus pandang penuh tebaran dan hamparan sakura.
“ITAAA!!!” teriak kakaknya. Dan ia terbangun dari komanya setelah kecelakaan menumpang kereta di negeri sakura.


CATATAN KECIL: Maaf saya sedang galau dan tidak tahu ingin menulis apa. Ini tulisan tanpa insight. Saya menulis sambil tidur, jadinya ya seperti ini. Yaaa...maaf kalau tidak memberikan pencerahan atau pembaca tidak mudheng. Saya pun juga tidak mudheng dengan tulisan saya yang satu ini.

0 comments

KISAH TENTANG PERSAHABATAN


Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Reff.
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Masih kuteringat padamu ketika aku mendengar kembali lagu ini “Semua tentang kita”. Ketika genderang pesta yang meriah ditabuh, itu tanda bahwa saatnya kita berpisah. Hatiku pilu memangku palu dan paku. Genderang itu berbunyi nyaring, memekakkan kalbuku yang nyilu. Tak tahukah kau bahwa aku terlalu mencintaimu dan menyayangimu? Hatiku telah tertambat padamu. Ruangan hatiku yang telah terisi olehmu, kini harus kosong mlompong. Kering kurasa tanpamu, hampa.
Teringat kisah kita bersama. Saat suka dan duka, saat tawa ataupun tangis yang membuncah. Masih teringatkah engkau tentang perjalanan cinta kasih itu? Kebersamaan itu. Masih teringatkah engkau tentang perselisihan yang hampir memutus ikatan erat kita?
Aku terlalu menyayangimu. Mendengar lagu ini dari winamp laptopku, berderailah air mataku, tak kuasa aku menahan deras alirnya. Tersayat-sayat sudah hatiku oleh sembilu genderang itu. Aku ingin kembali ke masa itu. Masa di mana kita habiskan waktu bersama dalam cinta.
Kawan, masih ingatkah ketika pertama kali kita berkenalan? Bagaimana skenario Allah mempertemukan kita hingga sampai pada sebuah kata mulia “PERSAHABATAN”. Kawan, dahulu hatiku pernah sangat membencimu. Namun Allah Sang Pemilik hati telah membalikkan hatiku hingga aku mencintaimu dan kita bersama dalam payung persahabatan.
Meski kini kita telah berpisah menuju cita masing-masing. Semoga ikatan itu akan selalu ada untuk selama-lamanya.

0 comments
Labels: , ,

Pacaran Yook, Ukh!


“Pacaran yook, Ukh!”
“Deg!!!” jantungku tersentak kaget.
“Ukh…ayoo! Jawab!” ajaknya penuh dengan semangat. Matanya berbinar-binar, tangannya mengepal, senyumnya menawan membuatku tak tahan.
Aku hanya tergugu.
“Pa…pa…pacaran?” ucapku terbata.
Ia hanya mengangguk dan tersenyum. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan. Padahal yang aku tahu, ia paham bahwa pacaran itu dilarang. Setahuku, ia selalu menundukkan pandangan dan anti terhadap lawan jenis. Memandang saja tak berani apalagi sampai berdekat-dekatan. Sungguh kali ini aku benar-benar tak percaya, berani-beraninya ia mengajakku pacaran. Padahal ia pun tahu, aku tak pernah mau pacaran. Makanan apa sich pacaran itu? Bikin galau saja.
“Ukh, bagaimana?” tanyanya lagi.
“Ta…tapiii…pacaran itu kan zina. Mendekati zina saja tidak boleh masa’ pacaran?!”
Ia tersenyum lagi, kemudian bertanya,”Lho zina bagaimana tho, Ukh? Bukan pacaran dalam konteks itu Ukh. Tapi pacaran yang halal. Ukhti paham, kan?”
“Afwan, maksudnya…?” ujarku seolah berfikir panjang.
Aku hendak mengucap apa yang aku maksud dan mungkin yang ia maksud, tetapi ia langsung saja menyahut kalimatku dengan semangat yang menggebu.
“Iya, Ukh. Ayo! Mau ya?”
“Dengan siapa?” tanyaku agak ragu.
“Dengan saya, Ukh. Nanti kita bareng-bareng, ya?”
“Tidak, ah!!! Belum siap!”
“Kenapa belum siap?” tanyanya berkerut-kerut.
“Yaaa…belum siap aja,” jawabku asal. Sebenarnya menghindar darinya. Masa’ sama dia?
“Berarti Ukhti nolak?”
“Ya. Saya tidak mau. Cari yang lain saja!” balasku sewot.
“Owh…”
Wajahnya terlihat sangat kecewa ketika aku menolaknya. Sadis memang, tapi mau bagaimana lagi? Masa’ dengannya? Apa kata dunia??? Bisa runtuh nanti gedung-gedung pencakar langit, bisa kiamat. Walaaah, kan malah tambah ribet.
“Afwan, bukan maksud melukai. Tapi…,” ungkapku kemudian.
“Iya Ukh, tak mengapa. Terima kasih, ya,” jawabnya dengan lembut.
“Tapi saya akan tetap mencari pacar, Ukh. Tunggu ya!” lanjutnya dengan senyuman dan semangat.
“Iya…semoga segera menemukannya, ya!” doaku.
“Aamiin. Syukron. Saya pamit ya, Ukh?”
“Iya. Nanti kabar-kabar ya!”
“Insya’allah. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Tiga Hari Kemudian.
Tiga hari setelah dialog itu, ia menemuiku lagi. Kali ini ia terlihat begitu segar, ceria, dan seperti biasa selalu tampil energik dan semangat.
“Assalamu’alaikum,” sapanya sopan.
“Wa’alaikumsalam. Bagaimana?” tanyaku sok perhatian.
“Alhamdulillah udah. Ia cantik sekali, subhanallah.” Ia tersenyum sangat girang.
“Subhanallah, cepat sekali. Mana?”
Aku sungguh sangat penasaran. Secepat itukah ia menemukan penggantiku?
“Engkau pasti sangat iri dengan kecantikannya. Engkau pun juga pasti menyesal telah menolak kemarin,” ujarnya bangga.
“Halah! Paling juga cantikan aku. Paling-paling kamu juga masih mengharapkanku. Atau mungkin kamu sekarang berpura-pura telah mendapatkannya agar aku cemburu?” balasku acuh dan tanpa aturan.
“Sungguh, Ukh. Engkau pasti iri dan menyesal, bahkan kau akan menangis.”
“Huhft, tak percaya.”
“Ya sudah!!!” Ia mulai emosi.
“Ya sudah, mana kekasihmu itu? Mana?!”
“Kekasih???”
“Iya. Katanya mau pacaran dan sekarang kau telah menemukan pacar. Pacar berarti kekasih, kan?”
“Owalaaah, Ukh. Ukhti salah paham.”
“Salah paham bagaimana?”
“Yang tak maksud pacaran itu ini!” ujarnya sambil menunjukkan jari-jarinya yang lentik. Kuku-kuku jari-jarinya berwarna orange. Sungguh sangat indah dan menawan.
“Ooo…pacar, tho? Tak kiraaa…”
“Ukhti kira aku lesbi?”
“Haha…afwan, Ukh salah tangkep. Mahasiswa sekarangkan lagi masa galau apalagi kemarin-kemarinkan ada kajian Ustadz Faudzil Adzim,” kataku enteng.

3 comments
Labels: , , ,

KISAH ROMANTIS (Baca: Harapan)

Sepenggal kisah kehidupan rumah tangga yang di dalamnya terdapat cahaya yang terang benderang.

Sesuai janji, di sepertiga malam terakhir aku terbangun. Kulihat istriku masih tertidur pulas. Di bibirnya tersungging senyuman. Oh sangat menawan istriku sayang. Kupandang rupanya yang elok, kukecup keningnya, kukucapkan kata-kata mesra, "Sayangku, buka matamu." Namun, ia masih terlelap bersama mimpi indahnya, mungkin sedang memimpikanku.
Lalu, kukecup pipi kanannya dan kuulangi kata-kataku, "Sayang! Buka matamu, Cinta!" Hmm rupa-rupanya ia masih bergelut dengan mimpinya. Kemudian untuk yang ketiga kalinya, kukecup pipi kirinya sambil kulantunkan bumbu-bumbu mesra tadi, "Sayangku, Istriku tercinta. Ayo, buka matamu!" Barulah ia terbangun dan kata pertama yang ia ucapkan adalah, "Astaghfirulloh. Maafkan aku suamiku, aku terlalu lelah dan letih hingga aku lalai."
Kubelai wajahnya, lalu kukecup keningnya sekali lagi, "Baca doa dulu, Cinta." Ia pun melantunkan doanya. Subhanallah.
"Yuk, sayang!" ajakku untuk bersuci. Beginilah caraku membangunkan istriku. Dengan kelembutan dan kemesraan, bukan dengan kekerasan dan paksaan.
Kami pun bergandeng tangan menuju kamar mandi. Kami bersuci dari hadas besar dan kecil. Lalu kami sholat qiamul lail, dilanjutkan dengan witir dan tilawah Quran sampai kami tertidur dalam pelukan. Subahanallah indah dan romantisnya. :D

Indah sekali cerita ini, romantis. Suami-istri yang bercinta dalam maghfiroh dan RidhoNya. Menjalankan Al-Quran dan As-sunah, saling mengajak ketaatan padaNya. Sungguh luar biasa.

DOAKU

Subhanallah, ya Allah.
Karuniakanlah padaku imam yang sholeh, yang hatinya selalu tertambat padaMu
yang senantiasa menyeru mengajak menuju hidayahMu
yang tak pernah bosan menebar kebaikan atas niat memperoleh ridhoMu
Ya Allah, karuniakanlah suami yang taat, tunduk, patuh pada perintahMu dan suami yang selalu menghindar dan menjauhi laranganMu
Karuniakanlah suami yang romantis seperti Rasulullah. Dan jadikanlah hamba seperti Bunda Khadijah, Aisyah atau Fatimah yang sholihah, senantiasa membantu suaminya di jalan dakwah.
Hindarkan kami dari bid'ah dan fitnah ya Robby. Aamiin


PENDAPAT

Hmm...KTT buanget yach? Khayalan Tingkat Tinggi maksudnya.
Tapi,,,semua itu mungkin kok, asal kita mau melakukan perbaikan tdiri niat hanya karena Allah semata.
Bismillah.
:D
^_^
;)

21 Maret 2012, 1/3 malam terakhir.

0 comments
Labels:

KISAH SEORANG WANITA PENDERITA EPILEPSI MENYADARKANKU TENTANG MAKNA KESABARAN

Ibnu Abbas berkata kepada muridnya, "Maukah aku tunjuki wanita ahli surga? Dia adalah wanita yang datang pada Rasulullah tentang penyakit epilepsi yang dideritanya, dan mohon kepada Rasulullah untuk mendoakan sembuh darinya. Rasulullah bersabda, 'Kalau kau mau aku doakan engkau, dan engkau sembuh, dan mau engkau sabar dan masuk surga."
Ternyata wanita itu memilih untuk bersabar. Ia mengatakan, "Aku lebih baik sabar, tapi kalau sakitku kambuh dan tidak sadar auratku terbuka, maka doakan agar auratku tidak tersingkap." Rasulullah pun mendoakan agar terjaga auratnya.

Membaca kisah ini hatiku bergetar, seolah menamparku dan menyadarkanku tentang makna kesabaran. Aku ingin menitikkan airmata. Ternyata selama ini aku rapuh, aku banyak mengeluh karena penyakit NS. Astaghfirulloh, aku ingin menjadi wanita tangguh. Tak mudah rapuh dan mengeluh. 
Aku akui aku sangat kagum pada wanita itu. Bersabar. Ya, kesabaran adalah penerimaan dengan ikhlas. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak akan mengeluh lagi. Aku ingin bersabar, moga kelak Allah menerima kesabaranku.
Aku serahkan semua padaMu ya Allah.
Buatlah hamba lebih bersabar dalam menjalani hidup ini...

0 comments
Labels: ,

Maaf, Hanya Untuk Suamiku

Akhi, maaf karena aku tak mampu menahan ini semua. Aku harus mengatakannya dengan tegas.
Akhi, sekeras apa pun kau usahakan hal itu. Aku tak bisa menerimanya.
Seberapapun engkau meminta, aku tak akan memberikannya.

Ruangan itu bukan untuk saat ini.
Mahkota di dalamnya pun akan kusembunyikan.
Kunci ini akan selalu aku jaga, akan kusimpan dan tak kan kuberikan dengan mudah.
Maafkan aku, bukan maksudku melukai hatimu.
Sungguh, jangan engkau memaksa masuk.
Aku tak akan membiarkan kau mengotori ruangan itu.
Itu ruangan spesial.
Teruntuk orang yang spesial.

Biarkan ruangan ini kosong untuk sementara.
Jangan kau isi!
Jangan kau masuki!
Jangan kau mencoba mencuri!

Bila kau ingin masuk...
Maka datanglah bukan padaku...
Meminta bukan padaku...
Tapi pada-Nya yang memiliki hatiku
Minta restu orangtuaku...

Bila Dia mengizinkan...
Maka akan kubukakan pintu untukmu dan kau boleh memasukinya...
Kau boleh miliki mahkotanya...
Namun, aku mau...
Kau masuk karena kau mencintaiNya

Sungguh, saat ini aku tak kan memberikannya...
Ini hanya untuk suamiku kelak...

0 comments
Labels:

Tinta Emas Yang Tertoreh


Wahai, jagad raya beserta penghuninya!
Dengarkanlah nyanyian hati sang pujangga teri
Teruntuk para pejuang tangguh yang berjuang untuk negeri ini
Pejuang tangguh tanpa gelar jasa
Torehkan tinta-tinta keniscayaan cahaya
Bersinar kalahkan taring sang mentari
Berkilauan indah kalahkan kilau mutiara di dasar samudera
Memberikan pencerahan dan penerangan sejati
Atas mimpi-mimpi yang terpendam dalam sanubari
Memberikan arahan di atas tonggak-tonggak kesesatan
Atas harapan-harapan yang tertunda

Dengan kacamata tembus masa
Dia torehkan tinta emas yang mengendap di dada
Membuat segala keniscayaan ini kan jadi nyata
Menghantarkan pada keabadian sang bintang
Tak mengharap balas jasa
Tak mengharap sepersenpun rupiah atas bulir-bulir bening yang menetes dari sekujur tubuhnya
Wahai dunia!
Tak akan ada jasa yang bisa mengimbangi perjuangannya
Sebesar apapun itu
Tak akan mampu membayarnya
Terimakasih untukmu
Wahai pejuang tangguh




0 comments
 
Lautan Tintaku © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters