Labels: ,

Kesederhanaan yang Bermakna

 Oleh Ibu Dewi 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulilahi rabbil ‘alamin, washsholatu wassalamu ‘ala, asyrofil ambiyaa'i wal mursalin, wa a’laa alihi wa sahbihi ajmain amma ba’du.

Marilah terlebih dahulu kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa ta'ala, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga hari ini kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal 'afiat untuk ikut serta membimbing putra-putri kita menapaki jalan yang mereka tempuh, khususnya dalam meraih ilmu di MIM Gonilan ini. 

Tak lupa shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam serta para sahabat. 

Perkenalkan nama saya Ibu Dewi Wulandari Wicaksono, S. IP. Saya merupakan wali murid dari ananda Muhammad Alif Akbar Wicaksono kelas 5B MIM GONILAN Kartasura. 

____________

Kali ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman dalam membesarkan putra semata wayang kami. 

Generasi X yang lahir sampai akhir tahun 80-an dinilai sebagai generasi yang mandiri, pekerja keras, berorientasi pada karier, fleksibel, mahir dalam teknologi, logis, banyak akal, dan problem solver (pemecah masalah) yang baik. Generasi Milenial atau Generasi Y adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1980 hingga tahun 1995 pada saat teknologi telah maju. Mereka tumbuh di dunia yang telah mahir menggunakan media sosial dan juga smartphone sehingga otomatis mereka sangat mahir dalam teknologi. Generasi milenial sering dinilai sebagai generasi yang malas karena sering bermain ponsel. Namun sebenarnya generasi milenial adalah generasi yang memiliki keingintahuan tinggi, percaya diri, dan merupakan generasi yang paling banyak membaca buku. Namun generasi milenial sangat rentan terserang depresi serta gangguan kecemasan.


Sebagai individu yang dilahirkan pada awal tahun 80-an, saya termasuk orang yang "beruntung". Di saat itu, kami menggunakan mesin ketik, namun juga sudah mengenal komputer. Menggunakan telepon kabel analog serta pager, di saat handphone jadul mulai diproduksi. Bermain congklak dan cublak-cublak suweng, tapi sudah bisa ikut balapan Tamiya di Matahari. Bisa dikatakan, seluruh tekhnologi yang ada saat ini serta yang sudah hilang di jaman now, telah sempat kami cicipi. 


Tapi ada satu hal yang paling membekas dalam hidup saya sampai sekarang. Yaitu betapa sopan dan hormat anak-anak saat itu kepada orang tua dan guru maupun kepada yang lebih tua dari mereka. Pemandangan yang bisa dikatakan agak jarang untuk kita rasakan dan lihat saat ini. 


Jujur saja, saya pribadi merasa miris saat melihat pergaulan anak zaman sekarang, cara berkomunikasi dengan lawan bicara, pola interaksi anak dan orangtua ataupun saat anak dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya untuk mencari jalan keluar atas suatu masalah. 


Banyak anak yang lebih memilih bermain dengan teman virtualnya di game yang sudah terunduh dalam gadget mereka, dibandingkan bercengkerama dengan orangtua ataupun saudaranya. 

Banyak juga anak-anak yang berbicara menggunakan bahasa daerah kepada orangtuanya, namun bukan dengan struktur kalimat yang tepat. 

Misalnya, "Buk, aku luwe, jupukne sego, yo". Waaaahh.. Kalau bapak saya masih hidup dan saya bicara seperti itu ke ibu saya, bisa dipastikan saya bakalan kena marah besar 😂😂😂.

Atau di lingkup sekolah, pada saat anak melakukan kesalahan dan mendapatkan teguran dari guru, mereka merasa telah diperlakukan dengan tidak adil, sehingga mereka "mengadukan" hal tersebut ke orangtuanya.


Padahal di zaman saya SD sekitar tahun '87an, guru menegur anak didik itu merupakan hal yang amat sangat wajar, bahkan almarhum bapak saya dan ibu selalu menanyakan apa saja yang telah saya kerjakan selama di sekolah hari itu, apakah ada aturan sekolah yang saya langgar. Walaupun Alhamdulillah-nya, saya tidak menyalahi aturan apapun, namun hal tersebut selalu rutin ditanyakan bapak. Kadang saya merasa jengkel, karena kesannya bapak tidak percaya kepada saya. Tapi setelah sampai rumah, bapak selalu mengajak kelima anaknya untuk bertukar pikiran. Apa saja yang kami rasakan dan inginkan hari itu, selalu kami ceritakan. Perkara dikabulkan atau tidak, benar atau salah, itu urusan terakhir. Yang penting, kami dibiasakan untuk speak up.


Ternyata setelah saya melihat pola anak-anak dalam berinteraksi sehari-hari, ada yang kadang terlewat atau malah bisa dikatakan diabaikan karena terlihat sepele. 


Hal tersebut adalah tiga kata sakti dalam hidup, yaitu :

1. Ma'af

2. Tolong

3. Terima kasih


Sebagai makhluk sosial, manusia harus hidup berdampingan dengan sesamanya. Dan tidak menutup kemungkinan, akan terjadi gesekan karena perbedaan pandangan. Karena itu, sebagai orangtua kita harus mempersiapkan anak-anak kita agar mampu bertahan dalam lingkup sosial mereka nantinya. 


Bagaimana cara kita membekali anak, pasti berbeda antara satu orangtua dengan orangtua yang lain. Namun ada satu yang harus selalu kita ajarkan, yaitu Adab / Sopan Santun. 


Dan, adab bermasyarakat sedikitnya mencakup tiga hal yang telah disebutkan di atas. Berikanlah contoh nyata kepada anak.


Apabila kita melakukan kesalahan, tidak perlu gengsi untuk meminta maaf. Karena derajat kita sebagai orangtua tidak akan pernah turun, hanya karena kita memberanikan diri meminta maaf kepada anak di saat kita melakukan kesalahan. Di saat kita meminta bantuan sekecil apapun, jangan lupa mengawali dengan kalimat tolong dan diakhiri dengan ucapan terima kasih.


Sebagai seorang ibu, saya lebih menginginkan anak saya untuk menghargai saya. Karena bagi saya, seseorang yang menghargai orang lain, otomatis mereka pasti telah menghormati orang lain tersebut. 


Semakin dini kita mengajarkan dan memberi contoh, semakin cepat pula anak mengaplikasikan kebiasaan tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. 


Mari kita didik anak perempuan kita agar menjadi perempuan yang tangguh dan kuat dalam hidup, seperti 'Aisyah ra, Ummul Mukminin, Ibunya Kaum Mukmin, istri Baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.


Dan didiklah anak laki-laki kita, agar menjadi bibit pemimpin yang berani dan bertanggung jawab, seperti Umar bin Khothobb, Singa Padang Pasir, Khalifah yang paling pemberani sepeninggal Baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.


“Al-Ummu Madrasatul Ula"

Artinya: Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya.


Demikian sepenggal cerita yang bisa saya bagikan. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua dalam mendidik putra putri kita. 

Mohon maaf apabila ada salah kata dan perbuatan. 

Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

0 comments
 
Lautan Tintaku © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters