Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts
Labels: ,

Akhwat SKI on The Travel: Pati Episode


Pagi itu, ayam pun sudah mulai berkokok bersahut-sahutan melihat secercah cahaya lampu, seakan memang masa depan yang nyata dan menyenangkan telah di depan mata. Riang, seperti riangnya hatiku pagi itu.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB, selain suara kokok ayam yang bersahut-sahutan juga ada suara adzan silih berganti berkumandang dari desaku, dan desa-desa tetangga. Membangunkanku yang terlelap dalam mimpi panjang. Selimut yang membungkusku hangat terpaksa harus segera dilipat. Huft, denting jam tak mau untuk sekedar berhenti sejenak, putaran jarum jam semakin lama semakin terasa cepat, secepat detak jantungku yang terkaget-kaget karena jam pun telah menunjukkan pukul 04.30 WIB.
Aku pun segera berlari untuk membersihkan badan, berdandan dan berkemas-kemas. Semua peralatan yang kubutuhkan harus segera kumasukkan ke dalam tas kecilku. Pakaian ganti, makanan ringan, dan sedikit obat. Oh iya, tak lupa buku diaryku kumasukkan juga, takut kalau-kalau dibaca adik-adikku dan ibuku. Hehe… Kini pun aku siap berangkat dengan mengenakan gamis merah abu-abu, jilbab merah, sandal gunung, tak lupa juga jaket SKI FSSR UNS yang juga berwarna merah kukenakan. Kata buku yang pernah aku baca, warna merah itu menunjukkan warna yang penuh dengan semangat dan gelora api yang membara, maka aku pun juga harus semangat. Kalau masalah jalan-jalan, atau refreshing sich aku jagonya yang bersemangat. Eh, jantannya atau jagonya yang bersemangat yach? Hmm, emangnya ayam apa?
Jam tanganku kini telah menunjukkan pukul 06.37 WIB. Waaah, kayaknya aku bakalan telat nich. Janjiannya kan kita bertemu di terminal tirtonadi pukul 07.00 WIB. Waduuuh, bagaimana ya nanti? Kalau aku telat, masa’ harus ke Pati sendirian? Huft, Ayaaaaaah, ayo ngebuuuuuuuuut!
“Sreeet-sreeet-sreeet!” Wuish, Alhamdulillah, aku sampai di terminal tirtonadi pukul 07.06 WIB. Telat dikit tidak apa-apa, batinku. Setelah aku sampai di sana, astaghfirulloh tidak ada satu pun akhwat SKI. Apakah aku ditinggal? Tanyaku dalam hati.
Saat aku kebingungan mencari mereka, Alhamdulillah aku mendapatkan sebuah SMS yang membuat hatiku sedikit lebih tenang. SMS dari kabid Nisaa’, mbak Anisa, “Dek, mbak tunggu di pintu keluar barat.” Wuuush! Ciiiiiit! Sampai dech di hadapan mbak Anisa, mbak Wati dan Zulfa. Aku menyesal sudah telat. Maksudnya menyesal telat dikit, harusnya bisa telat lebih lama, dandan yang lebih rapi lagi, hehe… Aduuuh, kok lama-kelamaan aku jadi centil yach?
Kami pun menunggu teman yang belum datang. Tak lama kemudian, mbak Yati pun datang, Alhamdulillah, nambah satu personil lagi. Lamaaaaa, lalu ada pak satpam menghampiri kami, menyuruh kami ‘ngadem’ di ruang tunggu, eh nunggu di ruang tunggu ding.
Kesan pertama di terminal tirtonadi, sungguh sangat menakjubkan. Hanya satu kata yang ingin aku ucapkan, yang terdiri dari 3 fonem, dan 1 morfem bebas “WAW”. “Waaaah AC, dingiiiiin mak nyeeeessss,” kataku selanjutnya, dalam hati.
Selain disambut dengan udara dingin dari AC-AC yang terpasang dipinggir-pinggir dinding, kami disambut oleh Spongebob. Hihi, maksudnya setelan LCD besar di antara sekat-sekat tempat duduk yang kami pilih, filmnya Spongebob. Membuat perutku sakit, nahan tawa.
Haduuuw, udah jam 07.30 WIB kok mbak Hanik dan Pipin juga belum dateng ya? Kemanakah mereka? Lama kami menunggu, dan akhirnya satu persatu datang. Syukurlah, perasaanku sedikit lebih ringan, tinggal nunggu bisnya.
Sudah setengah jam menunggu bis, kok tidak datang-datang ya? Adanya bus-bus eksklusif jurusan Yogjakarta dan Jakarta. Karena tidak sabar, akhirnya kabid nisaa’ kami memutuskan untuk menelepon mbak Mila. Wah, ternyata kami salah tempat. Bus Jurusan Pati, Blora, Purwodadi mah adanya di terminal bagian timur, eh ini malah nunggu di bagian barat. Alamaaak, harus jalan jauh lagi. Tapi tidak mengapa, inilah yang disebut dengan “Traveling”. Kalau tidak nyasar-nyasar ya bukan traveling namanya, gregetnya tidak ada.
“RELA-RELA-RELA”
“Rela, mbak?” tanya seorang laki-laki kepada rombongan akhwat SKI.
“Pati, Pak?”
“Ya, Rela. Silahkan naik!”
Dahiku berkerut-kerut memikirkan makna kalimat demi kalimat yang terlontar oleh dua orang tadi. Huft, inilah salah satu keunikan bahasa. Keunikan mempelajari sastra terutama linguistik atau lebih dikerucutkan pada pragmatik. Lihat saja kalimat pertama yang dilontarkan dan kalimat jawaban yang terucap! Apakah nyambung kalau dipikir-pikir? TIDAK! Tapi maksudnya bisa ditangkap, bukan?
Okey, tadi itu bukan apa-apa, hanya awalan saja. Hehe, awalan kok panjangnya minta ampun. Inti dari perjalanan kami baru akan dimulai. Jangan bosan membacanya ya! Ikuti terus traveling kami di himmaaliyahsk.blogspot.com. Hah, malah promosi blog.
Kami pun mulai menapaki tangga-tangga bus yang lumayan curam. Aku duduk di dekat jendela, bersama dengan Zulfa. Sedang mbak Anisa dengan mbak Yati, mbak Wati dengan Pipin, mbak Hanik sendirian. Baru menaiki bus dan belum apa-apa mbak Yati sudah mabuk, padahal bus juga belum dikemudikan. Apakah ini awal yang buruk atau malah menjadi awal yang menyenangkan? Ikuti saja terus tulisan ini sampai habis! :p
Yeeeei, perjalanan dimulai jugaaaa. PATIIIIIIII I’M COMING. MBAK MILAAAAA-KUN, I’M COMING.
Di sepanjang perjalanan ke Pati, adalah perjalanan yang paling mendebarkan sedunia. Perjalanan dengan menggunakan bus Rela. RELA, nama bus yang akan membawa kami sampai ke Pati, rumah mbak Mila. RELA, ya benar Rela namanya. Kita harus rela apapun yang terjadi, rela diperlakukan apapun di dalam bus, rela berkorban, rela kehilangan, dan macam-macam rela yang lain yang tidak perlu disebutkan satu persatu, dan semua orang pun sudah tahu. RELA, bus yang memerlukan semangat membaja. Jantung dipertaruhkan, jika hendak menaiki rela. Memerlukan mental dan fisik yang kuat, jika kamu hendak menaiki rela. Jadi persiapkan mental dan fisikmu terlebih dahulu sebelum naik rela, jangan sampai mental dan fisiknya asal-asalan nanti tidak bakal tahan.
Benar-benar harus menyiapkan mental dan fisik yang kuat dan tangguh. Banyak godaan menghampiri. Para pengamen yang silih berganti menghibur diri, walau kami tidak sampai hati tapi kami terpaksa mengikuti sajian yang dipersembahkan untuk kami. Sebuah lagu fals yang mereka nyanyikan, dengan sedikit bantuan alat musik ketipung murahan, kami terpaksa ikut bergoyang. Hati kami mengingkari, kami tidak menyukai, tapi terpaksa mengikuti. Hah, semua ini gara-gara kita harus rela. Yach, seperti apa yang telah kuungkapkan tadi. Rela, seperti nama busnya dan memang mengidentifikasikan agar kita rela dalam keadaan apapun, dalam kondisi apapun. Kata pepatah Jawa, kita harus lila legawa.
Di dalam bus, kami mencoba untuk tidur tetapi selalu gagal. Berkali-kali Rela terpaksa harus direm secara mendadak, membuat kepalaku berkali-kali terbentur jog tempat duduk. Berkali-kali juga hampir menabrak truk, bus dan yang terparah adalah menabrak delman, menabrak kuda. Benar-benar senam jantung. Deg-degannya melebihi naik halilintar di Dufan.
Pening kepalaku terbentur terus menerus, selain karena terbentur juga pening karena lagu yang diplay di sepanjang perjalanan adalah lagu-lagu lawas, Crisye. Jadi inget perjalanan pulang dari Blora ke Solo bersama anak-anak FLP, kang Nass, dan mas Ngadiyo. Mereka penggemar lagu-lagu lawas, dan terpaksa aku mendengarkan mereka menyanyi dengan asyiknya. Yach, tak mengapalah mereka menyanyi seperti itu, menikmati masa muda mereka dalam masa tua mereka.
Balik lagi ke Bus Rela. Kami terpaksa berkali-kali menghembuskan nafas panjang-panjang untuk menenangkan detak jantung yang semaikn lama semakin cepat. Sopir yang ugal-ugalan, yang selalu menyalip para truk-truk yang lewat di jalan yang menikung membuat kami selalu was-was. Didukung pula, suasana hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, semakin menambah horor perjalanan kami. “Tiduuur, tiduuur, sayang,” berkali-kali kalimat itu terucap untuk diriku sendiri, tapi sial tak pernah berhasil.
Yach, akhirnya. Akhirnya aku sungguh terharu, kami sampai di terminal Purwodadi dengan selamat. Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menyelamatkan kami dari “sebuah kerelaan yang harus menjadi tumbal ketika berada di dalam bus rela”.
Aku kira perjalanan mendebarkan itu sudah usai. TIDAK, ternyata masih ada satu bus lagi yang harus kami tumpangi. Bus kota jurusan Pati. Bus mini ini juga tidak kalah horor dari bus rela tadi. Video yang diplay di sepanjang perjalanan, membuatku mengelus dada. Horor. MONATA, Tahu? Aku kira kalian sudah tahu. Monata adalah grub dangdut sejanis SONATA. Penyanyinya sexy-sexy, mengumbar aurat, membuat para lelaki utamanya lelaki hidung belang tertarik-tarik, bak magnet. Pakai acara sawer-saweran lagi. Tahu tidak, penyanyi-penyanyi itu menyanyi dalam rangka apa? Halal bihalal, men. HALAL BIHALAL, loh. Astaghfirulloh. Selepas lebaran harusnya kembali suci kok malah kembali terkotori dengan melihat hal-hal yang tidak berhak dilihat. Horornya lagi tidak hanya tentang itu, tetapi juga medan jalan yang kami lewati tidak mendukung sama sekali, semuanya serba menyeramkan. Jalanan ‘krowak’, emm maksud saya berlubang, berlumpur, karena memang di sana adalah raja padas. Konon katanya di situ akan dibangun pabrik cabang semen gresik, tetapi batal karena ditentang oleh warga setempat. Alhamdulillah lah, alam tidak akan dirusak.
Kanan kiri jalanan yang kami lewati adalah hutan, sawah, dan ladang jagung. Mengherankan bagiku, banyak desa-desa yang tidak mempunyai gapura, yaaa minimal papan nama lah. Jangankan gapura, papan nama desa pun tidak ada. Tapi, kondektur atau lebih akrab disebut dengan ‘kernet’ hafal sekali desa-desanya meski tidak mempunyai papan nama. Ada juga pondok-pondok pesantren yang letaknya jauh di tengah peladangan jagung, menyepi, menyendiri. Tidak begitu tahu pesantren apa, tapi pokoknya ada lah.
Lanjut lagi ya? Jam tanganku menunjukkan pukul 11.35 WIB. Sejam perjalanan terminal Purwodadi-Pati Selatan, sampai juga di rumah mbak Mila.  Kami disambut hangat oleh Ibu dan keponakannya (Alba namanya) dan lebih hangat lagi kami disambut oleh berbagai makanan yang tersaji di ruang tamu. Subhanallah, perut kami sudah keroncongan. Setelah berbasa-basi sebentar, dan setelah kami dipersilahkan untuk mencicipi anekan jajanan yang disediakan, kami pun segera melahapnya habis. Bersisa, sih tapi yaaa gitu lah namanya orang kelaparan.
Istirahat sebentar sambil mengisi perut yang sedari tadi keroncongan, kami pun segera memenuhi panggilan adzan. Sholat berjamaah. Setelah itu, kami makan besar. Waw, mbak Milaaaa, tanteeee, terima kasih, kami sangat merepotkan ya? Maaf ya! :’)
“Klik”
Hmmm, MNCTV, India leeen acara TV-nya. Siapa sich yang tidak suka film india? Kebetulan kami semua menyukai film-film India. Pikiranku jadi melayang-layang lagi, ingat film SKI FSSR UNS yang menjadi juara satu, HITAM PUTIH 3, bentuk filmnya india-indianan. Lucu pokoknya kalau kamu lihat. Pingin lihat? Search saja di youtube, insya’allah sudah diupload kok. Kami serempak nonton film India di MNCTV, Kabhi Kushi Kabhi Gham, serunya nobar, nonton bareng. Penuh dengan kebersamaan.
Lalu setelah sholat ashar, kami harus segera keluar rumah karena kami harus segera melanjutkan perjalanan atau traveling kami ke alas, sebenarnya sich tidak sesuai disebut alas, lha wong gunung kapur kok. Untuk mencapai tempatnya kita tidak butuh waktu lebih dari 5 menit, kan tempatnya pas di depan rumahnya mbak Mila, tinggal sedikit menerabas kebun orang dengan berjalan kaki.
Mulai dech narsis-narsisannya, ceprat-cepretnya. Aku mah kali ini tidak mau pegang kamera, hihi…padune mau dicepret terus. Kami naik ke atas bukit kapur yang tinggi. Setelah sampai di puncak, masya’allah pemandangannya luar biasa. Takjub dengan kekuasaan-Nya yang maha indah.
Angin sepoi-sepoi menyuarakan riangnya hati kami. Seolah menjerit, berbahagia menyambut kedatangan kami.
Ya Allah, sungguh indah sekali alam ciptaanMu. Dari atas sana, kami bisa melihat sawah-sawah membentang luas, ladang-lagang jagung dan jalan-jalan raya bagai garis-garis melintang di antara persawahan dan peladangan.
Karena sudah terlalu sore, dan matahari hampir tenggelam ya sudah kami balik ke rumah mbak Mila, ngantri mandi.
Yaaach, disambut lagi dengan jagung bakar. Mantap, dingin-dingin makan jagung anget. Perjalanan malamnya hingga pulang ke Solo kembali tidak usah diceritakan ya? Ini sudah jam 23.01 WIB, aku ngantuk. Padahal sebenarnya aku mau nulis tentang “Transaksi Rumah Tangga” eh malah nulis ini. Ya sudah, yang tentang itunya besok saja lah di kampus. Semangaaaaat! Semangat apa ya? Bobo’? Hu’um :D
Intinya perjalanan ke Pati sangat seru. Terima kasih untuk mbak Mila dan keluarga yang telah menyediakan konsumsi gratis untuk kami. Muach, ini ciuman mesra untukmu mbak Milaaaaa-kun. :p
ARIGATO
GOMENASAI
:D

Pati, 12-13 Januari 2013

0 comments
Labels:

Siluet Masa Lalu Terbuka Lagi


Sebuah petualangan hidup yang tembus pada kisah masa lalu. Siluet-siluet itu mencoba hadir kembali, di sini, saat ini, di masa depanku. Aku terpana, terpaku, memandangnya. Tak terasa bulir-bulir bening menetes dan membanjiri pipiku yang kemerahan. Aku hanya duduk terpaku menyaksikan mereka bersorak-sorai di samping panggung.
Aku seperti melihat masa laluku yang indah. Masa lalu yang begitu melekat erat dalam hidupku. Kerinduan itu kini sedikit terobati.
Kenangan itu terbuka kembali dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Ketika dahulu aku berseragamkan baju muslim ala TPA. Aku masih ingat, aku memakai ukuran S seperti ukuranku saat ini ketika aku membeli baju. Warnanya hijau seperti warna kulit telur bebek.
Aku masih ingat. Tak pernah aku menangis, tak pernah aku bersedih. Masa-masa TPA penuh arti, penuh keceriaan. Perasaanku ringan kala itu, seperti tidak ada beban sedikitpun di pundakku. Aku selalu tersenyum, tertawa, dan bahagia. Ditambah lagi prestasi-prestasi yang kuraih hingga aku menjadi lulusan tercepat mengkhatamkan iqra’ 1 sampai 6, hingga pada akhirnya ketika aku kelas 4 SD aku telah mengajar TPA.
Aku ditugasi membantu adik-adikku membaca huruf hijaiyyah. Kadang aku gemas sekali, huruf yang sangat gampang ini, kenapa mereka begitu sulit untuk mengucapkannya? Gerutuku. Astaghfirulloh, begitu sombongnya diriku ini. Aku harus membuat mereka segera bisa membacanya, bahkan mereka harus lebih pintar dari aku. Azzamku kemudian.
Aku senang sekali mengajar TPA, semangat menggebu dengan seluruh tenaga yang aku punya. Semangatku bertambah, ketika tiap jadwal hari TPA adik-adik bergerombol pergi ke rumahku untuk menjemputku. Mereka dengan wajah polosnya memohon-mohon padaku untuk segera hadir dan mengajari mereka membaca iqra’.
Aku rindu masa-masa itu. Sangat, dari dasar lubuk hatiku, karena semakin umurku bertambah kesibukan lain mengalihkanku. Apalagi semasa SMA yang super sibuk dengan organisasi, juga dikarenakan jarak rumahku yang sangat jauh dari SMA membuatku tidak bisa lagi berhubungan dengan mereka. Hubunganku dengan mereka benar-benar terputus ketika aku tidak dianggap lagi sebagai golongan mereka, para RISMA. Perbedaan. Sebuah perbedaan membuatku dan teman-temanku saling menjauh, di ufuk barat dan timur.
Aku rindu masa-masa itu. Aku pun malu, sebagai aktivis dakwah kampus (ADK) tetapi tidak bisa mengkader adik-adik di waktu kecil. Padahal masa kanak-kanak adalah masa kekemasan dan rawan terpengaruh, tetapi kenapa aku mundur teratur? Kenapa? Keegoisan telah membuatku seperti ini.
Aku ingin kembali merasakan masa-masa dipanggil sebagai seorang ustadzah. Aku ingin mengajar, juga mendidik. Aku ingin menjadi inspirasi untuk mereka, tetapi… aku terlalu rapuh untuk itu.
Terima kasih untuk teman-temanku, aku bisa kembali merasakan hal itu lagi meski hanya dengan melihat. Kemarin, 23 Desember 2012 di desa Jati, kecamatan Jaten, kabupaten Karang Anyar, aku bisa melihat antusiasme adik-adik mengikuti JAMBORE SANTRI. Kecerianmu juga keceriaanku, kebahagiaanmu juga kebahagiaanku. Aku menyayangi kalian.
Kalian tahu, dalam hati aku menjarit. Kalian sangat bersemangat menghafal Al-Qur’an sedang aku yang berazzam menjadi seorang hafidzah, justru malah santai, berleha-leha, berpanku tangan, kadang masih berbuat maksiat. Astaghfirulloh.
Terima kasih adik-adikku yang imut telah mengingatkanku, memberi inspirasi. Kau inspirasiku saat ini. Terima kasih, kini aku harus bisa. Kita sama-sama ya?! :D
Lihat Video 

0 comments
Labels:

Pram: Sang Inspirator


Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pesan singkat dari salah seorang teman. Isinya adalah sebuah ajakan untuk silaturahmi ke salah seorang sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer. Aku langsung bersemangat membalas pesan singkat itu, tanpa pikir panjang kubalas dan kunyatakan persetujuanku untuk silaturahmi ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Akhirnya dengan perundingan panjang, pada tanggal 1 September 2012, kami, rombongan Laskar Kang Nass berangkat ke Blora.

Sebagai mahasiswa sastra Indonesia, saya dipaksa untuk mengenal sastrawan-sastrawan yang pernah ada di Indonesia, baik lewat orangnya ataupun lewat karya sastranya. Berbagai macam karya sastra sudah saya lahap, mulai dari karya sastra zaman balai pustaka sampai zaman sekarang. Salah satu karya sastra yang memikat hatiku adalah tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Saya mulai mengenal dan mengagumi karya-karya Pram sejak saya berada di jurusan sastra Indonesia.

Dari sinilah saya mulai mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer yang hebat. Saya takjub dengan ketangguhannya, kegigihannya, ideologinya, keuletannya, pendiriannya, keberaniannya. Menurut saya, Pram adalah sang inspirator, terutama dalam menghasilkan karya sastra. Ia pernah beucap, “Menulis adalah tugas pribadi dan tugas nasional.” Memang, ia sangat produktif dalam hal menulis. Bahkan banyak karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa asing. Meski banyak karya-karyanga harus menghilang karena rezim Soeharto atau karena kebijakan-kebijakan yang tidak bijak, ia tetap berkarya dengan keberanian. Ia pernah berkata, “Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” Wow, kata-kata yang sangat spektakuler. Menjalani hidup harus penuh dengan keberanian. Mungkin inilah yang menjadikannya dikenal dan dikenang sepanjang masa. Ia berani untuk menulis, meski tulisannya banyak yang dibakar bahkan ia harus rela menetap di penjara hanya gara-gara tulisannya.

Pramoedya dikenal sebagai sastrawan empat zaman, yaitu zaman penjajahan, zaman orde lama, zaman orde baru, dan zaman reformasi. Namun bagiku, pramoedya adalah sastrawan sepanjang zaman. Karya-karyanya akan selalu terkenang.

Pram pernah berkata, “KEGAGALAN KESUSASTRAAN MODERN INDONESIA: KEGAGALAN REVOLUSI.”

Sebuah karya sastra memang mempunyai kekuatan istimewa. Efek saat menikmati karya sastra sangatlah dahsyat, karena fungsi karya sastra sendiri adalah dulce et utile, yaitu menghibur dan mendidik. Sebuah karya sastra juga merupakan cermin masyarakat, artinya bila kita membaca sebuah karya sastra, kita bisa mengetahui situasi dan kondisi masyarakat di daerah tertentu dan pada kurun waktu tertentu. Dari membaca karya sastra, kita bisa mengetahui sejarah atau budaya suatu masyarakat. Begitu pula karya-karya Pram yang beraliran realis-sosialis, karya-karyanya sangat monumental dan spektakuler.

Saya juga takjub dengan semua yang ada dalam diri seorang Pram. Dalam keterbatasan dan ketidakbebasan karena terkekang di dalam penjara, ia tetap menelurkan karya, bahkan lebih produktif. Bandingkan dengan kita! Kita mendapat fasilitas yang hebat dan canggih seperti laptop, namun apakah kita mampu menelurkan karya seperti Pram? Padahal Pram pernah tidak naik kelas tiga kali, bahkan dikatakan ‘goblok’ oleh ayahnya sendiri, namun Pram kini menjadi tokoh yang dikenang. Sedangkan kamu? Kamu adalah sarjana mungkin telah menjadi professor, lantas kontribusi apa yang kamu berikan pada bangsa ini?


0 comments
Labels:

Laporan Perjalanan di Taman Wisata Taru Jurug

Pada hari selasa, 21 Agustus 2012 kemarin saya bersama keluarga besar mengadakan tamasya lebaran ke Taman Wisata Taru Jurug. Tidak diduga pengunjung di sana sangat banyak, puluhan ribu orang mungkin, baik dari dalam kota maupun dari luar kota seperti keluarga kami. Keadaan ini sangat berbeda ketika di hari-hari rutin, bukan hari-hari libur lebaran. Kalau di hari-hari libur lebaran paling-paling pengunjungnya hanya 5-10 orang. Bahkan kadang tidak ada sama sekali. 

Kami memasuki kawasan Taman dengan merogoh kantong Rp 10.000,00/orang. Sangat mahal menurut ukuran mahasiswi seperti saya. Karena menurutku Taman Wisata Taru Jurug kurang update. Binatang-binatangnya banyak yang tidak terurus, bahkan beberapa bulan yang lalu sempat terdengar bahwa singa di kebun binatang itu lepas dari kandangnya dan menerkam dua ekor unta. Saya tidak tahu kesalahan siapa ini? Diduga harimau itu sedang lapar. Apa karena tidak diberi makan atau diberi makan namun tidak mengenyangkan? Ya sudahlah itu urusan mereka yang bekerja di taman kebun binatang tersebut. Yaach, saya harap sich ada perbaikan di kebun binatang tersebut. Ada kenaikan harga masuk, tapi juga harus diimbangi dengan sarana dan prasarana yang seimbang dong.

O,ya balik lagi ke pokok bahasan utama. Pengunjung-pengunjung itu semuanya sangat antusias untuk melihat berbagai macam binatang yang dipelihara di kebun binatang tersebut. Antusiasme mereka terlihhat ketika banyak yang mengantri untuk menaiki gajah. Eh, jadi teringat kunjunganku bersama teman-temanku ke Taman Wisata Taru Jurug tahun kemarin, kami berkenalan dengan gajah mungil yang ada di sana, namanya Manohara. Konon katanya, gajah itu diberi nama Manohara karena pada waktu itu gencar-gencarnya berita tentang selebriti yang sedang naik daun, Manohara. Hihi...lucu yach? 

Ah, kenapa saya tidak fokus gini, sich. Balik lagi ke bahasan utama. Selain antusiasme pengunjung dicerminkan ketertarikan untuk menaiki gajah, mereka juga sangat tertarik melihat-lihat binatang langka yang ada di sana, pada celingak-celinguk, eeeh ternyata kandangnya kosong. Mengecewakan, saya sendiri juga sangat kecewa. Kebun binatang yang luas dan banyak pengunjungnya kok binatangnya kurang. Kalau dibandingkan dengan kebun binatang di Gembira Loka, Yogjakarta sangat jauuuh. Hehe...

Emm...kami berkeliling-keliling memutari kebun binatang tersebut. Rasanya penuh sesak, panas dan gerah meski banyak pohon di sana, tapi tetap saja oksigennya tidak seimbang dengan manusia-manusia yang berseliweran di sana. Lalu kami memutuskan untuk segera keluar dari tempat itu dan menambah energi dengan makan di warung ayam lunak di depan taman tersebut. Selepas itu kami pulang. Eh, iya handphoneku sempat ilang waktu itu, dan kena semprot dech ma ibu. Tapi, Allah masih menolongku, handphoneku aman berada di tasku. Alhamdulillah.

Kami memutuskan naik bus harta sanjaya. Kali ini saya benar-benar naik pitam. PP Jurug-Masaran biasanya Rp 3000,00 eh kami ditarik sama kondekturnya Rp 5000,00/orang. Jelas saya langsung protes. Terjadi adu debat yang seru antara saya dan kondekturnya. Dan semua mata memandang. Berbagai macam pertanyaan bermunculan, "Sejak kapan BBM naik? Saya tadi pagi naik bus, masih Rp 3000,00 kok sekarang jadi Rp 5000,00? Mau saya laporkan ke atasan Bapak mengenai hal ini?" Waah perdebatan sangat seru sekali dan ternyata yang mendebat tidak hanya saya, penumpang di depan-depanku juga mendebat membelaku. Untung saja tidak ada wartawan waktu itu, kalau ada bisa terkenal nanti saya.

Ya sudah ini laporan perjalanan yang tak terlupakan bagi saya. Hihi ^_^

0 comments
Labels: , , ,

Kusambut dengan Ceria Ramadhanku Kali Ini

Alhamdulillah, tak terasa setahun telah berlalu. Ramadhan yang dulu tergantikan dengan ramadhan yang akan datang. Bulan suci yang selalu dinanti-nantikan kedatangannya. Subhanallah. Air mataku menitik ketika kuteringat ramadhanku waktu dulu. Sungguh kuniatkan dalam hati, ramadhan kali ini harus lebih baik dari ramadhanku yang dulu.

Hai, sobat semua... Dalam rangka memyambut bulan ramadhan yang penuh berkah (sesuai janji Allah), kemarin, pada tanggal 18 Juli 2012 JN UKMI UNS bersama adik-adik TPA dusbin  SKI-SKI Fakultas mengadakan pawai lho di sepanjang belakang UNS, Ngoresan, Jebres.

Terlihat pancaran ceria nan polos di raut wajah mereka yang masih kecil mungil. Semangatnya bergelora. Langkah kakinya yang pendek namun kuat menapak untuk menyambut ramadhan yang indah. Sorak-sorai dikumandangkan. Mereka membagikan selebaran waktu maghrib dan imsyakiyah pada warga setempat. Walau menempuh jarak panjang namun tak meyurutkan bara semangat di dada mereka. Subhanallah sekali semangat dan niatmu adik-adikku. Tetep istiqomah selalu di jalan Allah ya! Puasa yang rajin dan sungguh karena Allah.

Fight!
Ganbatte!





0 comments
 
Lautan Tintaku © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters