Labels:

JANGAN KOTORI JILBABMU!


Biar kuceritakan sebuah kisah yang insya’allah menjadi pengingat untuk kita semua sebagai seorang ikhwan, sebagai seorang akhwat yang ngakunya aktivis dakwah, sebagai seorang muslim, dan sebagai insan ciptaan-Nya.
30 Oktober 2012
Hari ini aku dikejutkan dengan sebuah folder di flashdisk temanku yang sengaja aku pinjam untuk menyimpan tugas karena pada waktu itu aku baru saja kehilangan flashdisk kesayanganku. Aku melihat foto-foto yang tidak pantas ada dalam flashdisk itu, bukan sebuah foto pornografi, tapi bagiku lebih menakutkan dan menyeramkan dibanding dengan melihat foto pornografi. Sungguh, aku tidak sengaja melihatnya. Awalnya aku kira foto-foto itu hanyalah virus dari internet karena memang flashdisknya baru saja aku tancapkan di komputer umum di perpustakaan kampusku. Tapi ternyata bukan. Itu foto asli, foto yang membuat hatiku teriris-iris dan ketar-ketir.
Foto itu membuatku tak berdaya, marah, emosi, sedih, rasa bersalah, menyesal, semua perasaan itu berkecamuk dalam hatiku. Aku benar-benar tidak bisa membendungnya hingga akhirnya aku melelehkan airmata dari dua bola mataku. Kemudian, ada seorang sahabatku yang menghampiriku di kamar kostku, menanyaiku kenapa kamu menangis. Aku hanya beku, membisu, tak berkata sepatah kata pun. Aku hanya bisa menatap foto-foto itu. Dengan tanggap salah satu sahabatku itu menengok laptopku yang menyala, dan ia pun langsung terkulai lemas menyaksikan foto-foto itu. Kemudian kami berdua menangis berdua, dalam kelamnya dan dinginnya malam.
Astaghfirulloh.
Berkali-kali kami mengucap istighfar menyaksikan foto-foto itu, antara percaya dan tidak. Laki-laki itu memang sudah dekat dengannya sejak SMP. Mereka selalu bersama, bahkan mereka sudah menganggap satu sama lain saudara. Namun, aku menangkap ada hal lain dalam hati sang laki-laki karena seringnya sang laki-laki menelepon akhwat itu.
“Telepon dari sapa?” tanyaku tempo dulu.
“Mas R”
“Owww…., kayaknya masnya kaya banget ya teleponnya standby 24 jam non stop? Emangnya kamu gak merasa terganggu?”
Si akhwat hanya nyengir.
Ketika di telepon laki-laki itu, si akhwat kelihatan sangat galak sekali seolah-olah ia tidak suka. Kalau tidak suka kenapa masih diangkat, pertanyaanku? Kenapa tidak di non aktifin aja atau bilang dengan tegas pada laki-laki itu, jangan pernah mengganggu lagi. Tapi nyatanya akhwat itu tidak melakukan hal yang demikian. Ia justru malah sering mengangkat telepon dari laki-laki itu, bahkan sekali telepon bisa berjam-jam dan sehari ada banyak telepon, belum lagi SMS-SMS yang berdatangan. Astaghfirulloh, begitu intensifnya mereka.
Kembali pada foto tadi. Aku tidak mengira kalau dia bisa melakukan hal itu. Si akhwat tidur di pangkuan laki-laki itu dan laki-laki itu memeluknya. Na’uzubillah mindzalik. Seorang akhwat dengan jilbabnya yang lebar. Sedang laki-laki itu kuliah di fakultas ilmu agama Islam.
Awalnya aku dan sahabatku tadi berpositif thinking, mungkin mereka sudah menikah. Aku mencoba meng-SMS si akhwat tersebut, menanyakan apakah dirinya sudah menikah dengan laki-laki itu, ternyata jawabannya membuatku semakin terluka. Belum, jawabnya singkat. Astaghfirulloh, berarti ia telah mengotori jilbabnya dan menanggalkan hijabnya.
Sebagai seorang teman yang melihat temannya seperti itu, apa yang kamu rasakan? Kecewa, marah, sedih, menyesal, dan  rasa-rasa yang tidak mengenakkan berkumpul di dada bukan? Menyesakkan. Kegagalan seorang teman dalam merangkul temannya.
CATATAN:
Jilbab adalah simbol ketaqwaan dan pakaian taqwa, seorang yang berjilbab sudah barang tentu harus menjaga hijab. Tetapi di zaman globalisasi yang katanya modern dan canggih, justru malah menawarkan pergaulan bebas. Mindset muslimah diubah dengan begitu mudahnya. Orang tidak bisa membedakan, mana berhijab, berjilbab, dan berkerudung. Sekali lagi karena ulah media yang mengeksplorasikan dakwah orang-orang yahudi dan nasrani. Berkerudung itu hanya menutup kepala, sedang berjilbab itu menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Berhijab? Berhijab itu menjaga hubungan terhadap lawan jenis atau hal-hal yang dilarang oleh agama. Idealnya bagi seorang muslimah adalah berhijab dan berjilbab, bukan berkerudung atau berjilbab saja.
Berjabat tangan terhadap non mahram saja tidak boleh apalagi berpelukan?
Konsekuensi muslimah yang berjilbab adalah menjaga hijabnya dan menjaga izzahnya, bukan malah mengotorinya seperti kisah tersebut. Jilbab adalah pakaian taqwa, tidak sepantasnya kita mengotorinya seperti itu. Mungkin diri kita dijadikan tauladan bagi orang lain, jadi kita harus memberikan tauladan yang baik. Intinya, jangan tanggalkan hijabmu karena cinta semu! Jangan tanggalkan jilbabmu karena nafsu!
Dukung Gerakan Hari Menutup Aurat Dunia!
Bukan dibuka tapi dijilbabi dan dihijabi! Bukan dibalut tapi ditutupi! Kenalkan pakaian taqwa yang sesungguhnya, jilbab-hijab. Tidak transparan, tidak ketat atau tabaruj, tidak menyerupai punuk unta, menutup dada, lebar, kain yang tebal, dan jangan lupa memakai kaos kaki yach! Karena kaki juga aurat ^_^

0 comments
Labels:

Televisi Selalu Mengincar Jiwa dan Agamamu!

Media massa mempunyai peran penting dalam mempengaruhi opini publik, dan salah satu media massa yang mempunyai peran terbesar dalam memberikan pengaruhnya di Indonesia adalah televisi. Televisi merupakan media yang sangat efektif dalam menyampaikan opini dan informasi, karena sifatnya yang audio-visual. Kenapa televisi? Karena masyarakat Indonesia minat baca sangat rendah, orang Indonesia cenderung memilih hal-hal yang instan dan sekaligus menjadi hiburan. Orang Indonesia paling tidak suka terhadap hal-hal yang sifatnya memberatkan oleh karena itu banyak investor asing yang menanamkan modalnya di dunia pertelevisian.

Sebenarnya tulisan ini adalah buah kekesalah saya dan buah kemarahan saya terhadap dunia pertelevisian yang selalu memojokkan Islam. Mereka sangat pintar memilih media untuk menghancurkan umat Islam dan meletakkan umat Islam dalam kekacauan yang luar biasa. Sebenarnya tanpa sadar kita telah berperang, bukan perang fisik tetapi perang pemikiran yang lebih sering disebut dengan istilah goshwul fikr.

Mereka pintar sekali memasukkan nilai-nilai kehidupan yang merusak. Contohnya dalam banyak film selalu menampilkan gaya anak sekolah yang tidak gaul tanpa pergi ke mall, tanpa pacaran. Padahal jelas-jelas yang namanya pacaran itu dilarang, sedangkan pergi ke mall untuk apa? Bukankah di sana justru malah banyak kemaksiatan?

Sekarang ini marak film-film religious dalam konteks ini adalah Islam. Tapi menurut saya, tidak ada film religious, yang ada adalah film yang berkedok religius. Ada dua tokoh yang sangat berkebalikan sifatnya, yang pertama orang miskin urakan, yang kedua orang kaya dengan penampilan keseharian memakai baju koko, berjenggot, berpeci tetapi dalam film itu orang yang beridentitas dengan keislaman malah dijadikan tokoh jahat atau antagonis. Sebaliknya, orang yang berpenampilan urakan dijadikan tokoh lakon atau tokoh protagonis. Sangat menyimpang bukan? Hal ini tidak hanya terjadi dalam satu film tetapi hampir di semua film.

Sangat-sangat menyimpang. Inilah keanehan, namun sayangnya masyarakat Indonesia tidak ada yang protes, bahkan mereka sangat enjoy dijajah dan diperangi seperti itu. Tanpa sadar nilai-nilai kekerasan yang berkedokkan Islam diserap begitu saja tanpa ada filter. Dan anehnya lagi, mengapa film-film itu lolos sensor? Dimana peran KPI?

Di luar tema religius, ada tema film anak-anak. Dalam film anak-anak ditampilkan anak yang banyak menghayal, banyak berkelakar, banyak berkelahi. Sama sekali tidak memberi pendidikan yang berarti, justru malah merusak moral. Bayangkan saja, sekarang ini banyak film anak dan lagi-lagi anak dipaksa untuk dewasa lebih awal dengan tontonan-tontonan yang menyisipkan “GAK PACARAN GAK GAUL”.

Halah, lagi-lagi televisi merusak. Makanya, di sebuah desa yang isinya adalah para ummahat. Di sana ada sebuah peraturan, yang tinggal di desa tersebut dilarang mempunyai “televisi”. Nach, ini adalah jalan yang bijak menurut mereka. Pertanyaannya yang terlontar dari seorang teman, “Lalu stress dong, hiburannya apa?” Hahahaha, saya tertawa dengan pertanyaan ini, tentu saja hiburan bagi mereka adalah surat cinta-Nya, Al-Qur’anul karim. Bukankah telah diterangkan bahwa Al-Qur’an adalah obat? Al-Qur’an bisa mengobati stress, bisa membuat hati tenang, bahkan berpahala dan lebih mendekatkan diri kita pada Allah. Tidak seperti televisi yang selalu memberi tontonan kemaksiatan. Sudah berdosa, mendapat murka Allah lagi.

Mungkin televisi akan lebih bermanfaat bila dipegang oleh orang-orang yang mempunyai pemahaman agama yang tinggi, hingga bisa digunakan sebagai sarana untuk berdakwah Islamiyah. Namun kenyataannya, televisi dipegang oleh musuh-musuh Allah, maka televisi digunakan untuk dakwah mereka, menghancurkan Islam. Mereka melakukan dakwahnya dengan segala cara dan mereka gencar berdakwah demi menghancurkan Islam, tetapi kita justru malah santai. 

“PLAAAKKK!”

Lagi-lagi aku mendapat tamparan. Apa peran kita untuk membela Islam yang selalu dipojokkan? Islam selalu diperolok-olok, difitnah, tetapi sama sekali diri kita tidak bergeming. Diam. Padahal sebenarnya, ini merupakan medan perang yang besar, bahkan mungkin lebih besar dari perang Badar. Apa kita harus rela kalah? Apa kita rela agama kita diinjak-injak? Mereka telah mendeklarasikan perang terhadap umat muslim, tetapi banyak umat muslim yang memerangi saudaranya sendiri. Mereka berhasil, kawan! Berhasil memporak-porandakan persatuan umat Islam. Kita masih saja diam? Hanya diam!

TERSERAHLAH!

Kalau bisa ikut berperang kenapa tidak? Bukankah rasulullah dan sahabatnya merupakan suri tauladan yang baik untuk kita. Rasulullah selalu menjadi panglima perang selama hidupnya, dan Abu Bakar mengorbankan seluruh harta dan jiwanya untuk tegaknya din Islam yang dirahmati Allah ini. Kita? Tetap diam? Bersenang-senang dengan menonton acara konser boyband dan girlband di televisi? Menyerahkan diri untuk mati di tangan mereka yang hendak menghancurkan Islam? IYA? 

SADAR!

Islam sangat membutuhkanmu!

0 comments
Labels: ,

Investasi Ilmu


Hal yang pertama kali muncul dibenak kita berkaitan dengan investasi adalah UANG atau HARTA (Emas, Tanah, Berlian, dan sebagainya). Pernahkah kita berpikir tentang investasi ilmu???

Menurut saya, ilmu merupakan investasi yang sangat luar biasa besar manfaatnya. Kalau berbicara investasi uang atau harta kekayaan, pasti kita juga akan membahas tentang untung dan rugi. Namun, ketika kita berbicara ilmu sebagai investasi, kita hanya akan membahas tentang keuntungan, keuntungan, dan lagi-lagi tentang keuntungan.

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR. Abu Dawud)

Kawan, beruntunglah kalian yang bisa berinvestasi dengan ilmu. Seberapa mahal pun harga sebuah ilmu, orangtua kalian rela membanting tulang agar bisa membiayai kalian dan agar kalian menjadi orang-orang berilmu. Mereka sadar, karena ilmu adalah PENTING. Ilmu merupakan salah satu bagian dari tiga amalan yang tidak akan pernah putus sampai kita mati.

Bahkan Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu beberapa derajat seperti dalam firman-Nya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu berlapang-lapanglah pada majlis-majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan bagi kamu. Dan jika dikatakan kepada kamu ; Berdirilah ! ", maka berdirilah Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang~rang yang diberi ilmu beberapa derajat ; Dan Allah dengan apapun yang kamu kerjakan adalah Maha Mengetahui." (QS.Al Mujadalah:11)

Ilmu akan selalu memberikan kemaslahatan bagi diri sendiri, keluarga, agama dan bangsa. Dengan ilmu, atas izin Allah kita akan mendapatkan segalanya.

Orang yang berilmu yang akan mendapatkan seluruh kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka menjadi penting ketika kita harus berinvestasi dengan ilmu mulai dari sekarang. Tidak hanya ilmu dunia tetapi juga ilmu akhirat. Kebanyakan dari kita terlalu bangga dengan ilmu-ilmu keduniawian hingga meremehkan ilmu-ilmu keakhiratan, ada juga yang terlalu bangga dengan ilmu-ilmu keakhiratan dan melalaikan ilmu keduniawian. Padahal kedua-duanya amatlah penting.

Hadits Riwayat Muslim  
”Barang siapa ingin meraih dunia, maka raihlah dengan ilmu. Barang siapa ingin meraih akhirat maka raihlah dengan ilmu. Barang siapa ingin meraih keduanya maka raihlah dengan ilmu.”

Allah pun akan memudahkan jalan menuju surga bagi orang-orang yang berilmu.

Hadits Riwayat Muslim   
”Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”

Tapi terkadang sangat disayangkan, mereka yang berkesempatan luas mendapatkan ilmu malah tanpa sadar ditolak mentah-mentah. Mereka hanya mengejar IP atau nilai dan mengabaikan sebuah proses. Astaghfirulloh. Segala macam cara dilakukan untuk mendapatkan sebuah ijazah bernilai bagus nan mentereng, mendapat gelar namun tidak memahami ilmu-ilmu itu dengan baik. 

Yuk, saatnya ubah pikiran kita tentang investasi. Investasi tidak perlu bermodalkan uang kok, cukup dengan ilmu, ilmu bisa diperoleh di mana saja dan kapan saja kan?

Bisa juga lihat di sini! 

0 comments
Labels:

On Air “Tazkiyatun Nafs”


Setiap hari senin, JN UKMI UNS mendapat jatah siaran di Hiz FM. Siaran ini merupakan bentuk kerjasama Hiz FM dengan Bidang Media JN UKMI UNS.
Seperti biasa setiap hari senin saya diberi kesempatan menjadi narasumber dialog interaktif, namun baru kali ini merasakan benar-benar siaran, walau sebenarnya sudah sering siaran. Senin, 4 Februari 2013, pukul 16.00 WIB, aku ditemani oleh mbak Hanik dan mbak Intan (Al-Es’af). Hari ini kami membahas tentang “Tazkiyatun Nafs” atau “Pensucian Jiwa.”
Sebelum on air, seperti biasa mbak Ayuk (penyiar hiz fm) membuat status di situs jejaring sosial, facebook mengenai judul materi yang akan dibahas pada dialog interaktif ini. Kemudian adalah pembukaan oleh mbak Ayuk, dan selanjutnya adalah pengantar.
Pengantar mengenai makna tazkiyatun nafs disampaikan oleh mbak Hanik. Ia menyampaikan makna tazkiyatun nafs berdasarkan makna gramatikal dan semantik. Aku takjub mendengar pemaparannya, sangat luar biasa. Memang mbak Hanik merupakan mahasiswa sastra Arab, memang sudah ahli dalam berbahasa Arab.
Kemudian giliran saya memaparkan tentang tazkiyatun nafs, karena ilmu saya masih sangat cetek maka saya membuka kepekan. Hehe… alias membaca buku. Selanjutnya adalah mbak Intan. Subhanallah, aku takjub, walau pertama kali siaran beliau sangat keren dalam menyampaikan ilmunya. Salut dech buat mbak Intan.
Di luar dugaan!
SMS berdatangan melebihi kuota, beda dari biasanya. Kalau biasanya, status di fb hiz banyak yang ngelike, dan SMS paling juga cuma dua orang. Kali ini beda, fb sedikit sekali yang ngelike dan SMSnya banyak banget.
Deg-degan?
Ya, kami sangat deg-degan karena ini tidak biasa, kami takut kalau kami tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Namun, deg-degan kami terhenti ketika membaca SMS-SMS yang masuk. Kami pun memilih menahan tawa, karena SMS-SMS yang masuk lucu-lucu, bagi kami.
Berbicara masalah “Pensucian Jiwa” memang tidak lepas dari segumpal daging yang ada pada tubuh kita, apabila ia baik, maka baiklah semuanya dan apabila ia buruk maka buruklah semuanya, segumpal daging itu adalah hati. Tidak lepas juga dengan yang namanya “CINTA.”
Banyak SMS yang datang menanyakan perihal pacaran, menikah, sampai sholat tetapi yang ada dalam pikirannya adalah akhwat sholihah. Ada juga yang SMS, “Semoga istri saya nanti sholihah seperti ukhti-ukhti yang siaran. Aamiin.”
GUBRAAKKK!
Kami berempat “tersenyum tipis” antara GR dan mengelus dada. Huft, dalam menyampaikan tentang tazkiyatun nafs, kita sudah diuji sedemikian rupa. Semoga Allah selalu melindungi kami. Aamiin.
Kami sempat ngos-ngosan menjawab SMS-SMS tersebut. Tapi kami sangat senang. JN UKMI, Dekat Bermanfaat.
Media!
Changes The World!
^_^

Jangan lewatkan siarannya JN UKMI di Hiz FM 101.7 tiap hari senin pukul 16.00 WIB. Kami sangat mengharapkan partisipasinya ke nomor 0818261014.

Silahkan didownload



0 comments
Labels:

KUNCI KUASAI DUNIA


Sebuah obsesi yang sangat tinggi dari seseorang, yaitu  MENJADI ORANG YANG BERKUASA. Dengan menjadi orang yang berkuasa kita mampu mendapatkan apa yang kita inginkan dengan mudah. Namun terkadang kita lalai dan tidak tahu apa kunci untuk menguasai dunia itu. Padahal kunci itu bertebaran di depan kita di setiap saat, kita tidak sadar akan hal itu. Ternyata kita belum bisa menemukan kunci itu yang telah Allah bocorkan kepada kita sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Allah pun telah mengabadikan berita itu dalam kalam-Nya yang suci, Al-Qur’an Al-Karim.
Iqra’!”
“Bacalah!”         
Ini adalah sebuah kunci yang Allah kabarkan kepada makhluk-Nya untuk menguasai dunia. Ya, dengan membaca berarti kita telah memahami sesuatu. Kita juga diwajibkan untuk menuliskannya, menuliskan apa yang kita ketahui untuk kita ajarkan kepada sesama. Mengapa membaca dan menulis itu menjadi penting dan menjadi kunci untuk menguasai dunia? Hal ini telah terbukti dan dibuktikan sendiri oleh Rasulullah teladan kita, hingga beliau menjadi orang nomor satu yang berpengaruh di dunia di sepanjang zaman.
Rasulullah pun pernah mengajarkan pada sahabat-sahabatnya, beliau bersabda dalam sebuah hadits, “Sampaikanlah walau hanya satu ayat!”
Makna hadits ini menyuruh kita untuk menyampaikan ilmu yang telah kita pelajari, meski hanya sedikit. Ya, dengan menuliskannya dan menyampaikan apa yang telah kita ungkapkan dalam tulisan kita maka kita bisa menguasai dunia.
Kita bisa menggunakan berbagai media massa untuk menyampaikan ilmu yang telah kita pelajari. Bisa lewat media massa cetak, seperti koran, majalah, atau buletin juga bisa menggunakan media massa elektronik seperti internet, atau bahkan lewat handphone mungil kita yang setiap hari kita pegang.
Media massa bisa menjadi sarana yang sangat efektif untuk menyebarluaskan ilmu atau pengetahuan yang kita miliki. Lewat media massa kita bisa berdakwah, dakwah tidak melulu berdiri di atas mimbar, bukan? Lewat media massa kita bisa menguasai opini publik. Ya, menguasai opini publik sama saja menguasai dunia. Ketika opini bisa dikuasai maka kita bisa mengendalikannya sesuai kemauan kita, bukan? Kita tidak lagi menjadi aktor atau aktris tetapi kita sudah menjadi seorang sutradara, yang mengendalikan jalannya cerita.
Dengan menjadi sutradara kehidupan, kita juga akan bisa menegakkan dinul Islam. Nama Islam yang dilecehkan dan dikotori oleh musuh-musuh Allah bisa kita bersihkan kembali lewat media massa.
Tanpa sadar, karena pengaruh media massa yang kini dikuasai oleh kaum-kaum kapitalis dan musuh-musuh Allah, orang Islam sendiri menjelek-jelekkan Islam. Menganggap orang yang berpenampilan Islami, seperti berjenggot dan bercelana cingkrang, berjilbab lebar dan bercadar, atau yang mempunyai buku tentang jihad dianggap sebagai TERORIS.
TERORIS, kawanku.
Sebuah tanparan yang sangat kasar mendarat di pipiku. Sebuah peluru yang jitu menancap di dadaku. SAKIT!
Apakah kita diam saja menyaksikan kenyataan pahit ini? Mulai dari anak Rohis  dianggap sebagai cikal bakal teroris, pondok-pondok pesantren dicurigai, dan kegiatan-kegiatan Islam diintai terus menerus, hingga orang-orang tua melarang anak-anaknya mengikuti kegiatan-kegiatan Islam, melarang membaca buku tentang Islam. Apakah kita hanya diam saja? Membisu, kaku? Hanya itu?
Apakah kalian tidak marah agama kalian dilecehkan seperti ini? Apakah hanya berdiam diri kita bisa mengubah segalanya?
Kawanku, sebuah tulisan bukanlah segalanya, tetapi sebuah tulisan mampu mengubah dunia. Sebuah tulisan bisa membuat kita menguasai dunia.
Jangan biarkan dunia dikuasai oleh musuh-musuh Allah! Bergeraklah mulai sekarang! Kalau belum mampu memberikan kontribusi di dunia perbukuan, atau media massa cetak, kita bisa menggunakan media massa elektronik, menggunakan handphone kita, menggunakan facebook, blog atau situs jejaring sosial yang lain. Saling memberi tausiyah, saling mengingatkan dan sebagainya, insya’allah hal itu akan mendatangkan ridho dan pahala dari-Nya.

2 comments
Labels:

KUNCI KUASAI DUNIA


Sebuah obsesi yang sangat tinggi dari seseorang, yaitu  MENJADI ORANG YANG BERKUASA. Dengan menjadi orang yang berkuasa kita mampu mendapatkan apa yang kita inginkan dengan mudah. Namun terkadang kita lalai dan tidak tahu apa kunci untuk menguasai dunia itu. Padahal kunci itu bertebaran di depan kita di setiap saat, kita tidak sadar akan hal itu. Ternyata kita belum bisa menemukan kunci itu yang telah Allah bocorkan kepada kita sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Allah pun telah mengabadikan berita itu dalam kalam-Nya yang suci, Al-Qur’an Al-Karim.
Iqra’!”
“Bacalah!”         
Ini adalah sebuah kunci yang Allah kabarkan kepada makhluk-Nya untuk menguasai dunia. Ya, dengan membaca berarti kita telah memahami sesuatu. Kita juga diwajibkan untuk menuliskannya, menuliskan apa yang kita ketahui untuk kita ajarkan kepada sesama. Mengapa membaca dan menulis itu menjadi penting dan menjadi kunci untuk menguasai dunia? Hal ini telah terbukti dan dibuktikan sendiri oleh Rasulullah teladan kita, hingga beliau menjadi orang nomor satu yang berpengaruh di dunia di sepanjang zaman.
Rasulullah pun pernah mengajarkan pada sahabat-sahabatnya, beliau bersabda dalam sebuah hadits, “Sampaikanlah walau hanya satu ayat!”
Makna hadits ini menyuruh kita untuk menyampaikan ilmu yang telah kita pelajari, meski hanya sedikit. Ya, dengan menuliskannya dan menyampaikan apa yang telah kita ungkapkan dalam tulisan kita maka kita bisa menguasai dunia.
Kita bisa menggunakan berbagai media massa untuk menyampaikan ilmu yang telah kita pelajari. Bisa lewat media massa cetak, seperti koran, majalah, atau buletin juga bisa menggunakan media massa elektronik seperti internet, atau bahkan lewat handphone mungil kita yang setiap hari kita pegang.
Media massa bisa menjadi sarana yang sangat efektif untuk menyebarluaskan ilmu atau pengetahuan yang kita miliki. Lewat media massa kita bisa berdakwah, dakwah tidak melulu berdiri di atas mimbar, bukan? Lewat media massa kita bisa menguasai opini publik. Ya, menguasai opini publik sama saja menguasai dunia. Ketika opini bisa dikuasai maka kita bisa mengendalikannya sesuai kemauan kita, bukan? Kita tidak lagi menjadi aktor atau aktris tetapi kita sudah menjadi seorang sutradara, yang mengendalikan jalannya cerita.
Dengan menjadi sutradara kehidupan, kita juga akan bisa menegakkan dinul Islam. Nama Islam yang dilecehkan dan dikotori oleh musuh-musuh Allah bisa kita bersihkan kembali lewat media massa.
Tanpa sadar, karena pengaruh media massa yang kini dikuasai oleh kaum-kaum kapitalis dan musuh-musuh Allah, orang Islam sendiri menjelek-jelekkan Islam. Menganggap orang yang berpenampilan Islami, seperti berjenggot dan bercelana cingkrang, berjilbab lebar dan bercadar, atau yang mempunyai buku tentang jihad dianggap sebagai TERORIS.
TERORIS, kawanku.
Sebuah tanparan yang sangat kasar mendarat di pipiku. Sebuah peluru yang jitu menancap di dadaku. SAKIT!
Apakah kita diam saja menyaksikan kenyataan pahit ini? Mulai dari anak Rohis  dianggap sebagai cikal bakal teroris, pondok-pondok pesantren dicurigai, dan kegiatan-kegiatan Islam diintai terus menerus, hingga orang-orang tua melarang anak-anaknya mengikuti kegiatan-kegiatan Islam, melarang membaca buku tentang Islam. Apakah kita hanya diam saja? Membisu, kaku? Hanya itu?
Apakah kalian tidak marah agama kalian dilecehkan seperti ini? Apakah hanya berdiam diri kita bisa mengubah segalanya?
Kawanku, sebuah tulisan bukanlah segalanya, tetapi sebuah tulisan mampu mengubah dunia. Sebuah tulisan bisa membuat kita menguasai dunia.
Jangan biarkan dunia dikuasai oleh musuh-musuh Allah! Bergeraklah mulai sekarang! Kalau belum mampu memberikan kontribusi di dunia perbukuan, atau media massa cetak, kita bisa menggunakan media massa elektronik, menggunakan handphone kita, menggunakan facebook, blog atau situs jejaring sosial yang lain. Saling memberi tausiyah, saling mengingatkan dan sebagainya, insya’allah hal itu akan mendatangkan ridho dan pahala dari-Nya.

0 comments
Labels:

Liburan Saatnya Rubuhkan Tantangan!

Bangun Boys!
Banguan Girls!

Liburan bukannya saat untuk berpangku tangan dan bermalas-malasan.
Ranjang memang empuk dan enak. Tapi, percayalah jalanan dan medan pertempuran jauh lebih menyenangkan.
Jalanan dan medan pertempuran adalah sebuah kenyataan, bukan seperti ranjang yang hanya mampu memberi mimpi dengan kenyamanan.

Berbicara soal mimpi, ranjang memang ahlinya. Tapi, boys-girls, jangan biarkan mimpi hanya tinggal mimpi. Jangan biarkan kau dilenakan oleh kenyamanan tanpa perjuangan.

Satu sifat manusia yang membahayakan, yaitu kepalanya di penuhi dengan angan-angan. Namun apakah kau mau angan-angan hanya akan menjadi khayalan saja? Cukupkah? Apakah kau bisa hidup hanya dengan bualan?

Boys-Girls,
Kadang angan hanyalah sebuah bualan
Kadang hanya sebuah fatamorgana semata
Semakin kau dekati, semakin fana bukan?

Come on, bangkit!
Rajut mimpi menjadi sebuah kenyataan, meski liburan kita harusnya bukan banyak hiburan tapi harus mencoba banyak tantangan dan berusaha merubuhkannya.

Banyak hal yang harus kita lakukan.
Birul walidain bagi anak rantauan.
Bagi anak rumahan?
Waktunya berkarya dan memperluas wawasan, meeeen.

Siap???

2 comments
Labels: ,

Akhwat SKI on The Travel: Pati Episode


Pagi itu, ayam pun sudah mulai berkokok bersahut-sahutan melihat secercah cahaya lampu, seakan memang masa depan yang nyata dan menyenangkan telah di depan mata. Riang, seperti riangnya hatiku pagi itu.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB, selain suara kokok ayam yang bersahut-sahutan juga ada suara adzan silih berganti berkumandang dari desaku, dan desa-desa tetangga. Membangunkanku yang terlelap dalam mimpi panjang. Selimut yang membungkusku hangat terpaksa harus segera dilipat. Huft, denting jam tak mau untuk sekedar berhenti sejenak, putaran jarum jam semakin lama semakin terasa cepat, secepat detak jantungku yang terkaget-kaget karena jam pun telah menunjukkan pukul 04.30 WIB.
Aku pun segera berlari untuk membersihkan badan, berdandan dan berkemas-kemas. Semua peralatan yang kubutuhkan harus segera kumasukkan ke dalam tas kecilku. Pakaian ganti, makanan ringan, dan sedikit obat. Oh iya, tak lupa buku diaryku kumasukkan juga, takut kalau-kalau dibaca adik-adikku dan ibuku. Hehe… Kini pun aku siap berangkat dengan mengenakan gamis merah abu-abu, jilbab merah, sandal gunung, tak lupa juga jaket SKI FSSR UNS yang juga berwarna merah kukenakan. Kata buku yang pernah aku baca, warna merah itu menunjukkan warna yang penuh dengan semangat dan gelora api yang membara, maka aku pun juga harus semangat. Kalau masalah jalan-jalan, atau refreshing sich aku jagonya yang bersemangat. Eh, jantannya atau jagonya yang bersemangat yach? Hmm, emangnya ayam apa?
Jam tanganku kini telah menunjukkan pukul 06.37 WIB. Waaah, kayaknya aku bakalan telat nich. Janjiannya kan kita bertemu di terminal tirtonadi pukul 07.00 WIB. Waduuuh, bagaimana ya nanti? Kalau aku telat, masa’ harus ke Pati sendirian? Huft, Ayaaaaaah, ayo ngebuuuuuuuuut!
“Sreeet-sreeet-sreeet!” Wuish, Alhamdulillah, aku sampai di terminal tirtonadi pukul 07.06 WIB. Telat dikit tidak apa-apa, batinku. Setelah aku sampai di sana, astaghfirulloh tidak ada satu pun akhwat SKI. Apakah aku ditinggal? Tanyaku dalam hati.
Saat aku kebingungan mencari mereka, Alhamdulillah aku mendapatkan sebuah SMS yang membuat hatiku sedikit lebih tenang. SMS dari kabid Nisaa’, mbak Anisa, “Dek, mbak tunggu di pintu keluar barat.” Wuuush! Ciiiiiit! Sampai dech di hadapan mbak Anisa, mbak Wati dan Zulfa. Aku menyesal sudah telat. Maksudnya menyesal telat dikit, harusnya bisa telat lebih lama, dandan yang lebih rapi lagi, hehe… Aduuuh, kok lama-kelamaan aku jadi centil yach?
Kami pun menunggu teman yang belum datang. Tak lama kemudian, mbak Yati pun datang, Alhamdulillah, nambah satu personil lagi. Lamaaaaa, lalu ada pak satpam menghampiri kami, menyuruh kami ‘ngadem’ di ruang tunggu, eh nunggu di ruang tunggu ding.
Kesan pertama di terminal tirtonadi, sungguh sangat menakjubkan. Hanya satu kata yang ingin aku ucapkan, yang terdiri dari 3 fonem, dan 1 morfem bebas “WAW”. “Waaaah AC, dingiiiiin mak nyeeeessss,” kataku selanjutnya, dalam hati.
Selain disambut dengan udara dingin dari AC-AC yang terpasang dipinggir-pinggir dinding, kami disambut oleh Spongebob. Hihi, maksudnya setelan LCD besar di antara sekat-sekat tempat duduk yang kami pilih, filmnya Spongebob. Membuat perutku sakit, nahan tawa.
Haduuuw, udah jam 07.30 WIB kok mbak Hanik dan Pipin juga belum dateng ya? Kemanakah mereka? Lama kami menunggu, dan akhirnya satu persatu datang. Syukurlah, perasaanku sedikit lebih ringan, tinggal nunggu bisnya.
Sudah setengah jam menunggu bis, kok tidak datang-datang ya? Adanya bus-bus eksklusif jurusan Yogjakarta dan Jakarta. Karena tidak sabar, akhirnya kabid nisaa’ kami memutuskan untuk menelepon mbak Mila. Wah, ternyata kami salah tempat. Bus Jurusan Pati, Blora, Purwodadi mah adanya di terminal bagian timur, eh ini malah nunggu di bagian barat. Alamaaak, harus jalan jauh lagi. Tapi tidak mengapa, inilah yang disebut dengan “Traveling”. Kalau tidak nyasar-nyasar ya bukan traveling namanya, gregetnya tidak ada.
“RELA-RELA-RELA”
“Rela, mbak?” tanya seorang laki-laki kepada rombongan akhwat SKI.
“Pati, Pak?”
“Ya, Rela. Silahkan naik!”
Dahiku berkerut-kerut memikirkan makna kalimat demi kalimat yang terlontar oleh dua orang tadi. Huft, inilah salah satu keunikan bahasa. Keunikan mempelajari sastra terutama linguistik atau lebih dikerucutkan pada pragmatik. Lihat saja kalimat pertama yang dilontarkan dan kalimat jawaban yang terucap! Apakah nyambung kalau dipikir-pikir? TIDAK! Tapi maksudnya bisa ditangkap, bukan?
Okey, tadi itu bukan apa-apa, hanya awalan saja. Hehe, awalan kok panjangnya minta ampun. Inti dari perjalanan kami baru akan dimulai. Jangan bosan membacanya ya! Ikuti terus traveling kami di himmaaliyahsk.blogspot.com. Hah, malah promosi blog.
Kami pun mulai menapaki tangga-tangga bus yang lumayan curam. Aku duduk di dekat jendela, bersama dengan Zulfa. Sedang mbak Anisa dengan mbak Yati, mbak Wati dengan Pipin, mbak Hanik sendirian. Baru menaiki bus dan belum apa-apa mbak Yati sudah mabuk, padahal bus juga belum dikemudikan. Apakah ini awal yang buruk atau malah menjadi awal yang menyenangkan? Ikuti saja terus tulisan ini sampai habis! :p
Yeeeei, perjalanan dimulai jugaaaa. PATIIIIIIII I’M COMING. MBAK MILAAAAA-KUN, I’M COMING.
Di sepanjang perjalanan ke Pati, adalah perjalanan yang paling mendebarkan sedunia. Perjalanan dengan menggunakan bus Rela. RELA, nama bus yang akan membawa kami sampai ke Pati, rumah mbak Mila. RELA, ya benar Rela namanya. Kita harus rela apapun yang terjadi, rela diperlakukan apapun di dalam bus, rela berkorban, rela kehilangan, dan macam-macam rela yang lain yang tidak perlu disebutkan satu persatu, dan semua orang pun sudah tahu. RELA, bus yang memerlukan semangat membaja. Jantung dipertaruhkan, jika hendak menaiki rela. Memerlukan mental dan fisik yang kuat, jika kamu hendak menaiki rela. Jadi persiapkan mental dan fisikmu terlebih dahulu sebelum naik rela, jangan sampai mental dan fisiknya asal-asalan nanti tidak bakal tahan.
Benar-benar harus menyiapkan mental dan fisik yang kuat dan tangguh. Banyak godaan menghampiri. Para pengamen yang silih berganti menghibur diri, walau kami tidak sampai hati tapi kami terpaksa mengikuti sajian yang dipersembahkan untuk kami. Sebuah lagu fals yang mereka nyanyikan, dengan sedikit bantuan alat musik ketipung murahan, kami terpaksa ikut bergoyang. Hati kami mengingkari, kami tidak menyukai, tapi terpaksa mengikuti. Hah, semua ini gara-gara kita harus rela. Yach, seperti apa yang telah kuungkapkan tadi. Rela, seperti nama busnya dan memang mengidentifikasikan agar kita rela dalam keadaan apapun, dalam kondisi apapun. Kata pepatah Jawa, kita harus lila legawa.
Di dalam bus, kami mencoba untuk tidur tetapi selalu gagal. Berkali-kali Rela terpaksa harus direm secara mendadak, membuat kepalaku berkali-kali terbentur jog tempat duduk. Berkali-kali juga hampir menabrak truk, bus dan yang terparah adalah menabrak delman, menabrak kuda. Benar-benar senam jantung. Deg-degannya melebihi naik halilintar di Dufan.
Pening kepalaku terbentur terus menerus, selain karena terbentur juga pening karena lagu yang diplay di sepanjang perjalanan adalah lagu-lagu lawas, Crisye. Jadi inget perjalanan pulang dari Blora ke Solo bersama anak-anak FLP, kang Nass, dan mas Ngadiyo. Mereka penggemar lagu-lagu lawas, dan terpaksa aku mendengarkan mereka menyanyi dengan asyiknya. Yach, tak mengapalah mereka menyanyi seperti itu, menikmati masa muda mereka dalam masa tua mereka.
Balik lagi ke Bus Rela. Kami terpaksa berkali-kali menghembuskan nafas panjang-panjang untuk menenangkan detak jantung yang semaikn lama semakin cepat. Sopir yang ugal-ugalan, yang selalu menyalip para truk-truk yang lewat di jalan yang menikung membuat kami selalu was-was. Didukung pula, suasana hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, semakin menambah horor perjalanan kami. “Tiduuur, tiduuur, sayang,” berkali-kali kalimat itu terucap untuk diriku sendiri, tapi sial tak pernah berhasil.
Yach, akhirnya. Akhirnya aku sungguh terharu, kami sampai di terminal Purwodadi dengan selamat. Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menyelamatkan kami dari “sebuah kerelaan yang harus menjadi tumbal ketika berada di dalam bus rela”.
Aku kira perjalanan mendebarkan itu sudah usai. TIDAK, ternyata masih ada satu bus lagi yang harus kami tumpangi. Bus kota jurusan Pati. Bus mini ini juga tidak kalah horor dari bus rela tadi. Video yang diplay di sepanjang perjalanan, membuatku mengelus dada. Horor. MONATA, Tahu? Aku kira kalian sudah tahu. Monata adalah grub dangdut sejanis SONATA. Penyanyinya sexy-sexy, mengumbar aurat, membuat para lelaki utamanya lelaki hidung belang tertarik-tarik, bak magnet. Pakai acara sawer-saweran lagi. Tahu tidak, penyanyi-penyanyi itu menyanyi dalam rangka apa? Halal bihalal, men. HALAL BIHALAL, loh. Astaghfirulloh. Selepas lebaran harusnya kembali suci kok malah kembali terkotori dengan melihat hal-hal yang tidak berhak dilihat. Horornya lagi tidak hanya tentang itu, tetapi juga medan jalan yang kami lewati tidak mendukung sama sekali, semuanya serba menyeramkan. Jalanan ‘krowak’, emm maksud saya berlubang, berlumpur, karena memang di sana adalah raja padas. Konon katanya di situ akan dibangun pabrik cabang semen gresik, tetapi batal karena ditentang oleh warga setempat. Alhamdulillah lah, alam tidak akan dirusak.
Kanan kiri jalanan yang kami lewati adalah hutan, sawah, dan ladang jagung. Mengherankan bagiku, banyak desa-desa yang tidak mempunyai gapura, yaaa minimal papan nama lah. Jangankan gapura, papan nama desa pun tidak ada. Tapi, kondektur atau lebih akrab disebut dengan ‘kernet’ hafal sekali desa-desanya meski tidak mempunyai papan nama. Ada juga pondok-pondok pesantren yang letaknya jauh di tengah peladangan jagung, menyepi, menyendiri. Tidak begitu tahu pesantren apa, tapi pokoknya ada lah.
Lanjut lagi ya? Jam tanganku menunjukkan pukul 11.35 WIB. Sejam perjalanan terminal Purwodadi-Pati Selatan, sampai juga di rumah mbak Mila.  Kami disambut hangat oleh Ibu dan keponakannya (Alba namanya) dan lebih hangat lagi kami disambut oleh berbagai makanan yang tersaji di ruang tamu. Subhanallah, perut kami sudah keroncongan. Setelah berbasa-basi sebentar, dan setelah kami dipersilahkan untuk mencicipi anekan jajanan yang disediakan, kami pun segera melahapnya habis. Bersisa, sih tapi yaaa gitu lah namanya orang kelaparan.
Istirahat sebentar sambil mengisi perut yang sedari tadi keroncongan, kami pun segera memenuhi panggilan adzan. Sholat berjamaah. Setelah itu, kami makan besar. Waw, mbak Milaaaa, tanteeee, terima kasih, kami sangat merepotkan ya? Maaf ya! :’)
“Klik”
Hmmm, MNCTV, India leeen acara TV-nya. Siapa sich yang tidak suka film india? Kebetulan kami semua menyukai film-film India. Pikiranku jadi melayang-layang lagi, ingat film SKI FSSR UNS yang menjadi juara satu, HITAM PUTIH 3, bentuk filmnya india-indianan. Lucu pokoknya kalau kamu lihat. Pingin lihat? Search saja di youtube, insya’allah sudah diupload kok. Kami serempak nonton film India di MNCTV, Kabhi Kushi Kabhi Gham, serunya nobar, nonton bareng. Penuh dengan kebersamaan.
Lalu setelah sholat ashar, kami harus segera keluar rumah karena kami harus segera melanjutkan perjalanan atau traveling kami ke alas, sebenarnya sich tidak sesuai disebut alas, lha wong gunung kapur kok. Untuk mencapai tempatnya kita tidak butuh waktu lebih dari 5 menit, kan tempatnya pas di depan rumahnya mbak Mila, tinggal sedikit menerabas kebun orang dengan berjalan kaki.
Mulai dech narsis-narsisannya, ceprat-cepretnya. Aku mah kali ini tidak mau pegang kamera, hihi…padune mau dicepret terus. Kami naik ke atas bukit kapur yang tinggi. Setelah sampai di puncak, masya’allah pemandangannya luar biasa. Takjub dengan kekuasaan-Nya yang maha indah.
Angin sepoi-sepoi menyuarakan riangnya hati kami. Seolah menjerit, berbahagia menyambut kedatangan kami.
Ya Allah, sungguh indah sekali alam ciptaanMu. Dari atas sana, kami bisa melihat sawah-sawah membentang luas, ladang-lagang jagung dan jalan-jalan raya bagai garis-garis melintang di antara persawahan dan peladangan.
Karena sudah terlalu sore, dan matahari hampir tenggelam ya sudah kami balik ke rumah mbak Mila, ngantri mandi.
Yaaach, disambut lagi dengan jagung bakar. Mantap, dingin-dingin makan jagung anget. Perjalanan malamnya hingga pulang ke Solo kembali tidak usah diceritakan ya? Ini sudah jam 23.01 WIB, aku ngantuk. Padahal sebenarnya aku mau nulis tentang “Transaksi Rumah Tangga” eh malah nulis ini. Ya sudah, yang tentang itunya besok saja lah di kampus. Semangaaaaat! Semangat apa ya? Bobo’? Hu’um :D
Intinya perjalanan ke Pati sangat seru. Terima kasih untuk mbak Mila dan keluarga yang telah menyediakan konsumsi gratis untuk kami. Muach, ini ciuman mesra untukmu mbak Milaaaaa-kun. :p
ARIGATO
GOMENASAI
:D

Pati, 12-13 Januari 2013

0 comments
 
Lautan Tintaku © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters