Labels:

Sayap-Sayap Kedengkian

“UI? Kamu mau kuliah disana? Buat apa kuliah jauh-jauh? Buat apa jadi sarjana? Ujung-ujungnya paling jadi pengangguran,” ungkap tetangga Aisyah melengking bagai petir menyambar.
“Saya ingin mencapai cita-cita saya menjadi dosen dan penulis produktif, Bu. Saya yakin asal ada kemauan pasti Allah memberi jalan,” balas Aisyah menahan rasa perih menyayat-nyayat di dada.
Halah, sok pinter,” cibir tetangga Aisyah sembari berjalan meninggalkan Aisyah dengan perasaan iri.
Aisyah pun tak kuasa menahan airmatanya. Berlelehan sudah. Setiap hari dirinya dicibir, disindir, dihina, dan dicaci oleh para tetangganya yang dengki melihat sosok Aisyah yang gigih dan teguh mencapai cita-citanya. Mereka iri kalau suatu saat nanti Aisyah menjadi seorang yang sukses.
“Sudahlah, Nak! Biarkan mereka ngomong apapun yang mereka suka. Jangan dimasukkan ke hati. Tetaplah teguh dengan cita-citamu. Ibu yakin asalkan kamu sungguh-sungguh, Allah pasti memberikan pertolongan untukmu. Sudah! Istirahat sana, besok kan berangkat ke Jakarta,” nasihat Ibu Afifah, Ibu Aisyah menenangkan, menyejukkan qalbu.
Keesokan harinya Aisyah kembali disibukkan dengan cercaan para tetangganya yang dengki. Lagi-lagi tetangga Aisyah membuat onar dengan perkataan-perkataan yang menjatuhkan mental. Mereka seakan tidak suka dengan apapun yang dikerjakan oleh Aisyah dan keluarga. Namun, mereka sok peduli menasihati Aisyah maupun ibu Aisyah. Padahal, nasihat-nasihat mereka menjerumuskan.
“Syah, Aisyah! Kamu itu lebih baik kursus saja atau kerja di Pabrik. Kasihan Ibu, Bapak, adik-adikmu. Kuliah kan mahal. Buang-buang uang saja, belum tentu nanti dapet pekerjaan. Liat tuh banyak di tivi-tivi sarjana jadi pengangguran. Kuliah itu tidak berguna,” nasihat Ibu Susini, nasihat omong kosong.
Aisyah benar-benar geram. Di hari keberangkatannya, masih saja ada orang yang memberinya nasihat yang menyesatkan, memojokkan. Untung, Aisyah bukanlah tipe orang yang mudah menyerah dan mudah goyah. Hatinya seakan-akan sudah mengeras, tahan banting terhadap perkataan orang-orang di sekelilingnya. Subhanallah. Aisyah memang sosok yang tangguh.
“Aisyah berangkat ya Pak, Bu, Dik. Assalamu’alaikum,” pamit Aisyah, tersenyum lebar membuat tetangga-tetangganya semakin risau.
Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya, Nak!”
Aisyah pun melambaikan tangan dan menyeka airmata penuh  bahagia juga duka. Bahagia karena cita-citanya telah di depan mata, duka karena harus meninggalkan keluarga tercinta di tengah lingkungan yang selalu risau apabila mendengar kebahagiaan keluarganya.
1 TAHUN KEMUDIAN
“Paaak! Buuu!” seru Erina, berlarian sambil membawa amplop kecil. Membuat para tetangga tercengang, kaget.
“Ada apa tho kok lari-lari? Itu amplop apa?” tanya Pak Waluyo, Ayah kandung Aisyah.
“Ini, Pak. Surat dari kak Aisyah,” jelas Erina masih tersungut-sungut lelah berlarian dari kelurahan.
“Buuu! Buuu! Ada surat dari Aisyah!” seru Pak Waluyo membuat para tetangga berdatangan ingin tahu apa isi surat itu.
“Cepet buka, Pak!” suruh Bu Afifah tidak sabaran.
Surat pun dibuka. Dan dibacakan di depan orang banyak.
“Assalamu’alaikum. Pak, Bu, Dik! Apa kabar? Semoga dalam perlindungan Allah SWT. Aisyah di Jakarta baik-baik saja kok. Berkat doa keluarga Alhamdulillah Allah selalu melindungi Aisyah. Pak, Bu, Dik, kakak kirimkan ini untuk keluarga di sana. Alhamdulillah Aisyah diberi rezeki oleh Allah. Ini cek sebesar Rp 5.000.000,00. Semoga bermanfaat. Aisyah rindu keluarga. Rindu Bapak, Ibu, Adik-adik. Maafkan Aisyah, Aisyah harus undur diri. Doakan Aisyah ya Pak, Bu, Dik. Doa Aisyah menyertai kalian. Wassalamu’alaikum.”
Mendengar isi surat itu hati para tetangga Aisyah panas membara, marah, tak suka. Dan mulailah kalimat hinaan itu bermunculan.
“Uang dari mana itu, Bu? Jangan-jangan hasil jadi wanita simpanan di Jakarta. Hati-hati lho, Bu uang haram,” begitulah hati orang yang tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain.
Astaghfirullah. Aisyah tidak mungkin seperti itu, Bu. Ibu-ibu tidak suka dengan kesuksesan Aisyah? Kalau memang begitu Ibu-ibu sebaiknya pulang saja! Saya tidak suka mendengar celotehan ibu-ibu yang kotor,” balas Pak Waluyo dengan nada tinggi, marah. Betapa tidak, anak kandungnya di hina. Orang tua mana yang rela anaknya di hina?
Mulai sejak itu, tersebar rumor di kalangan masyarakat desa tempat tinggal keluarga Aisyah bahwa Aisyah di Jakarta bukanlah untuk kuliah tetapi, mencari uang dengan jalan menjadi simpanan orang. Rumor itu semakin kuat, semakin hari semakin menyebar luas seiring dengan uang kiriman dari Aisyah yang jumlahnya tak sedikit setiap bulan.
Tiga tahun rumor itu terus berjalan tiada henti bagai air mengalir. Sampai suatu ketika Aisyah kembali ke kampung halamannya, ia sungguh kaget dengan perubahan sikap para pemuda di kampungnya. Yang dulunya sangat menghormati Aisyah, yang selalu mengagumi Aisyah sebagai tokoh yang islami, sebagai ustadzah ngaji TPA kini mereka berani menggoda Aisyah.
“Hei, Jupe sexy! Gimana dengan om-om itu? Dibayar berapa sama om-om itu?” goda salah satu pemuda.
Aisyah yang digoda tidak merasa. Tidak menegok apalagi menggubris.
“Hai, Aisyah! Songong amat, sih?! Di Jakarta aja bisa ngelayani om-om, di sini mau sok alim loe? Kita-kita udah tau kali,” ungkap Pemuda itu membuat Aisyah bingung.
“Maaf. Maksudnya apa ya?” tanya Aisyah penasaran, di kepalanya muncul beribu-ribu tanda tanya.
Halah, jangan sok blo’on!” sahut gerombolan ibu-ibu dari balik semak-semak.
Ternyata mereka telah merencanakan ini semua.
“Sungguh, saya tidak tahu-menahu tentang persoalan ini,” dengan polos Aisyah berkata demikian.
Halah, ayo lakukan saja Ibu-Ibu!” isyarat seorang ibu untuk menghujam dan menghukum Aisyah.
“Buuk! Buuuk! Buuuk! Buuuk!” suara itu membuat Aisyah tak sadarkan diri.
“Ayo pukul! Terus pukul! Wanita sok alim ini telah membawa aib kampong kita! ayo pukuuul! Pukul teruuus!” sorak para penonton bak mengadi ayam jago mereka di peraduan.
Ibu-ibu dan para pemuda telah main hakim sendiri. Mereka memukuli Aisyah dengan bengis, dengan kedengkian menahun yang telah menjadi karakter mereka sejak Aisyah dilahirkan.
Tiba-tiba ada seorang pemuda dan dua orang wanita turun dari sebuah mobil mewah. Mereka semua menghentikan aksi brutal itu.
“HEI-HEI…BERHENTIIII! BERHENTI IBU-IBUUUU!” teriak Pemuda yang bernama Rafi’, Seorang penulis handal abad ini.
Dua orang wanita yang besama Rafi’ berlarian menuju arah Aisyah yang tak sadarkan diri. Mereka menangis. Dan semua orang yang berada di situ tercengang. Betapa tidak? Artis yang selama ini mereka elu-elukan kini berada dihadapannya.
“Mbak Neiri? Mbak Muna? Kalian artis film ‘Cinta Berkalung Mutiara’ itu kan?” Sahut salah seorang pemudi, girang.
“DIAM!” Bentak Muna, salah satu artis film ‘Cinta Berkalung Mutiara.’
“LIAT ULAH KALIAN SEMUA! Kalian telah mencelakakan teman kami,” Kata Rafi’ marah, emosi.
“Itu akibat ulah dia sendiri. Kami malu punya tetangga seperti Dia! Dia Pelacur! Bagaimana pula ia mengirimkan uang setiap bulan dengan jumlah yang sangat banyak padahal ia sendiri kuliah?” jawab salah seorang pemuda tak kalah emosi dari Rafi’.
Astaghfirullah. Tidakkah kalian tahu siapa Dia?! Dia Aisyah Modern. Ia penulis buku ‘Cinta Berkalung Mutiara’ yang kalian elu-elukan selama ini. Pantas saja setiap bulan Ia mengirim uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Setiap dua minggu bukunya terjual 24.000 eksemplar. Ditambah lagi, bukunya difilmkan. Liat ulah kalian! Ia mendapat hukuman yang seharusnya tidak Ia terima. Betapa kejamnya kalian semua. Apa kalian iri dengan kesuksesan yang Ia raih?! Kedengkian macam apa itu? Ingat! Dengki itu ibarat api yang melahap kayu bakar! Amal kalian akan terhapuskan! Jadi jangan sekali-kali ada dengki di hati kalian semua!” Jelas Rafi’ mendiamkan mereka. Mereka tertunduk, membisu.
Sungguh perbuatan mereka diluar batas kewajaran. Menghukum seseorang yang tak seharusnya dihukum hanya lantaran sifat dengki dan iri yang mengendap dihati mereka. Kini setelah mengetahui kebenaran itu, mereka merasa sangat malu. Dan akibat ulah mereka yang sewena-wena, Aisyah harus di rawat di ruang ICU.


0 comments:

 
Lautan Tintaku © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters