Labels:

Memoar Seragam Kuning-Coklat

Pagi ini kurasakan kembali masa-masa di mana aku menjadi seorang puteri dan anak laki-laki itu menjadi seorang pangeran. Waktu itu aku begitu dimanjakan oleh teman-temanku dan dilindungi oleh pangeran itu, masa kanak-kanak yang menyenangkan. Masih kuingat dahulu ketika aku hendak bermain ayunan dan ayunannya dipakai oleh orang lain, dia, si pangeran meminta orang lain itu enyah dari hadapanku dan mempersilakanku main di ayunan itu. Setiap karya yang aku buat pasti selalu dipujinya dan dihargai sebagai karya yang terbaik bahkan bekal makananya selalu diberikan kepadaku. Asyiknya mengenang masa kecil itu.

Pangeran itu...
Huft, sayang ternyata beda aqidah.
Namun aku benar-benar tidak bisa melupakan masa-masa aku menjadi seorang puteri kerajaan TK Bhayangkara.

Mungkin orang-orang melihatku nakal, tapi sungguh aku tak pernah berbuat jahat pada teman-temanku kecuali pada yang satu. Namanya Didit, dia adalah temanku dan keluarganya adalah teman ayahku. Keluargaku dan keluarganya berteman sangat baik kecuali anak-anaknya, Didit dan aku. Didit selalu mengusiliku bahkan kita seringkali adu fisik, namun lagi-lagi pangeranku yang gagah berani membelaku. Masa kecilku memang sangat berwarna. Menjadi seorang puteri adalah idaman setiap anak-anak. Aku merasakannya dan menikmatinya.

O,ya belum aku terangkan ya mengapa judulnya "Memoar Seragam Kuning-Coklat"? Karena pada waktu TK seragamku ya gaun kuning dan baju polisi. 

0 comments:

 
Lautan Tintaku © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters