Labels:

Awaaas Ada Virus Merebak di Kalangan Aktivis!


Ukh, subhanallah sekali. Akhi Rama itu guanteng sekali. Tahu 'gak-tahu 'gak? Tadi malam aku ngimpiiin dia lhooo, padahal aku sama sekali gak memikirkan, jangan-jangaaaaan....," ujar Rina tampak menggebu-gebu, pipinya merona semu, matanya berbinar-binar.

"Eh iya'i. Tahu 'gak, tadi aku ketemu lhooo, malahan hampir tabrakan. Hmmm...deg-degan buanget, Ukh. Gak disengaja ataupun Allah telah mensekenariokan hal ini, ana gak tahu. Namaku dan namanya kayak tokoh pewayangan, Rama-Sinta, huft romantis," balas Sinta bangga.

Lihatlah dialog dua akhwat tersebut! Begitulah virus yang merebak di kalangan aktivis, terutama di kalangan aktivis dakwah. Merusak semua tatanan yang ada. Astaghfirulloh, mungkin saya masih termasuk yang terkena virus ini. Semoga Allah mengampuni khilafku. Aamiin.

VMJ, ya virus itu sering disebut dengan akronim VMJ (Virus Merah Jambu). Ada yang pernah merasakan? Virus ini menyerang para aktivis dakwah yang notabene tidak punya pertahanan. Menurut analisis dan penelitian kecil-kecilan, virus ini merebak karena para aktivis dakwah merasa dirinya aman dan terkekang sehingga virus ini bisa masuk dengan mudah tanpa ada perlawanan dari dalam. Seperti virus-virus pada umumnya dalam kedokteran, virus itu menyerang siapapun yang tidak mempunyai sistem imun yang kuat.

Tahukah kamu? Virus ini sangat pandai, sepandai setan menyesatkan manusia. Virus ini bergerak pelan hingga korbannya tidak merasakan sakitnya. Saat virus ini masuk, korban akan merasa sangat enjoydan hatinya berbunga-bunga. Lalu di akhir, hati kan rusak. Yaaa...seperti saat kita minum kopi secara kontinue, kita akan merasakan sebuah kenikmatan luar biasa, namun kopi bisa merusak tubuh kita bahkan bisa memperpendek umur kita. Maka, kita perlu hati-hati dengan virus ini, karena sangat mematikan.

Ada sebuah kisah nyata. Ada seorang ikhwan, petinggi dari sebuah LDK, amanahnya banyak di mana-mana. Namun perlahan-lahan ia mundur teratur dan menghilang dari aktivitas dakwah di kampus ataupun di kampungnya. Semua amanahnya ditinggalkan hingga membuat pengurus LDK lain kalang kabut. Hal itu dikarenakan apa? Karena VMJ. Konon katanya, ia dahulu sedang cinlok dengan seorang akhwat yang selalu menjadi partnernya dalam beramanah.

Betapa berbahayanya VMJ, bukan? VMJ bisa mengacaukan semua tatanan yang ada. Astaghfirulloh...

Di tengah hiruk pikuk umat Islam yang sedang memanas persoalan tuduhan teroris, soal pembantaian umat muslim, soal pelecehan terhadap Rasulullah, masih saja sempat memikirkan hal yang namanya lawan jenis. Bukankah masalah jodoh itu telah ditentukan oleh-Nya? Jadi kenapa masih khawatir? Mungkin penulis juga masih sama saja dengan dua akhwat pada ilustrasi di atas. Semoga tulisan ini sebagai pengingat khususnya untuk penulis sendiri dan istimewanya untuk pembaca semua.

Afwan.

0 comments
Labels:

Cermin Kecantikan



Percayalah padaku!
Engkau sungguh cantik seperti artis Korea.
Alismu tebal mempesona,
Matamu tajam berkilau,
wajahmu berseri dan merona,
tubuhmu bak biola,
Hidungmu mancung,
bibirmu pink,
rambutmu lurus tergerai panjang,

Percayalah padaku, ukhti
Kupinjami cermin untukmu agar kau bisa bercermin...
Bercerminlah, ukhti...

"Cantik bukan?"

Namun, bukan itu ukuran cantik itu, ukhti...
Tengoklah pada hatimu!
Sudah secantik fisikmu kah?

Hati yang cantik akan selalu terpancar.
Hati yang cantik akan selalu bersinar.
Hati yang cantik akan selalu terlihat dan dicari walau letaknya tersembunyi,
bak mutiara di dasar samudera nan luas.

Ingatkah kau QS. An-Nur ayat 35 wahai ukhti?

" Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."  

Ukhti, wanita dilihat dan dihormati bukanlah karena parasnya yang cantik, bukan pula karena tubuhnya yang sexy. Namun karena keimanan dan ketaqwaan yang ada pada dada mereka.    
Wanita dikagumi bukan karena seringnya ia tampil di depan umum, tapi karena pengabdian suci karenaNya.
Jadi... janganlah dirimu minder karena fisikmu tidak cantik, karena ukuran cantik itu letaknya di hati dan hanya Allah yang mengetahui.

Semangat, yach! ^_^

0 comments
Labels: ,

Rentetan Puisi dalam Kagum

Bolehkah aku menagumimu seperti pipit mengagumi elang?
Meski kutahu, meraihmu adalah sebuah kemustahilan...
Namun gejolak rona pink itu terus menyebar bak virus yang berjalan dengan kecepatan cahaya...
3 x 108 m/s

Tanpa ragu, virus-virus itu merasuk dalam DNA-DNA dan kromosom-kromosom dalam tubuhku.
Tak bisa lagi terhindarkan,
karena DNA baru telah terbentuk dan begitu melekat, 
erat...
Aku terjebak dan terkungkung dalam bahagia...


_oo_


Aku mengagumimu, sungguh tak dapat terbendung lagi.
Sayang, tak hanya aku yang menjadi secret admirer-mu.
Mereka, mereka, mereka dan mereka itu,
selalu berjuang untuk memperoleh perhatianmu dengan pesona tiada tara
Lalu aku???
Aku hanyalah si cebol yang merindukan rembulan.
Tak punya apa-apa...
Lalu apa aku bisa? :'(

"Bisa apa?"
Aku pun tak tahu.
Terlalu berhargakah dirimu untukku hingga aku meronta?

_oo_

Telaga Sarangan, 15 September 2012

0 comments
Labels:

Tak Usah Berjudul Saja, ya?

"Yang tegar, ya dek! Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan hamba-Nya, " itulah kata-kata yang selalu ia lontarkan ketika aku mengeluh. Kata-kata itu sebagai penyejuk kalbuku yang gersang.

Sering aku berfikir, "Kenapa harus aku yang menanggungnya? Kenapa harus aku yang mengalaminya?" Astaghfirulloh. Kusadari ini adalah pikiran yang sangat picik, yang seharusnya tak pernah ada.

Lama aku merenung dan tenggelam dalam tangis, kini kutemukan jawabannya. Sakit ini tak akan lama, aku yakin Allah akan menyembuhkan. Inilah bentuk kasih sayangNya agar aku bisa bersabar, mungkin. Akh, aku terlalu naif dan munafik. Kadang aku terima semua dengan senang, namun kadang aku selalu mengeluh. Dan ketika itu aku ingat sesuatu, "Cukuplah Allah sebagai penolongmu."

Semangat!

0 comments
Labels:

Pram: Sang Inspirator


Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pesan singkat dari salah seorang teman. Isinya adalah sebuah ajakan untuk silaturahmi ke salah seorang sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer. Aku langsung bersemangat membalas pesan singkat itu, tanpa pikir panjang kubalas dan kunyatakan persetujuanku untuk silaturahmi ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Akhirnya dengan perundingan panjang, pada tanggal 1 September 2012, kami, rombongan Laskar Kang Nass berangkat ke Blora.

Sebagai mahasiswa sastra Indonesia, saya dipaksa untuk mengenal sastrawan-sastrawan yang pernah ada di Indonesia, baik lewat orangnya ataupun lewat karya sastranya. Berbagai macam karya sastra sudah saya lahap, mulai dari karya sastra zaman balai pustaka sampai zaman sekarang. Salah satu karya sastra yang memikat hatiku adalah tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Saya mulai mengenal dan mengagumi karya-karya Pram sejak saya berada di jurusan sastra Indonesia.

Dari sinilah saya mulai mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer yang hebat. Saya takjub dengan ketangguhannya, kegigihannya, ideologinya, keuletannya, pendiriannya, keberaniannya. Menurut saya, Pram adalah sang inspirator, terutama dalam menghasilkan karya sastra. Ia pernah beucap, “Menulis adalah tugas pribadi dan tugas nasional.” Memang, ia sangat produktif dalam hal menulis. Bahkan banyak karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa asing. Meski banyak karya-karyanga harus menghilang karena rezim Soeharto atau karena kebijakan-kebijakan yang tidak bijak, ia tetap berkarya dengan keberanian. Ia pernah berkata, “Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” Wow, kata-kata yang sangat spektakuler. Menjalani hidup harus penuh dengan keberanian. Mungkin inilah yang menjadikannya dikenal dan dikenang sepanjang masa. Ia berani untuk menulis, meski tulisannya banyak yang dibakar bahkan ia harus rela menetap di penjara hanya gara-gara tulisannya.

Pramoedya dikenal sebagai sastrawan empat zaman, yaitu zaman penjajahan, zaman orde lama, zaman orde baru, dan zaman reformasi. Namun bagiku, pramoedya adalah sastrawan sepanjang zaman. Karya-karyanya akan selalu terkenang.

Pram pernah berkata, “KEGAGALAN KESUSASTRAAN MODERN INDONESIA: KEGAGALAN REVOLUSI.”

Sebuah karya sastra memang mempunyai kekuatan istimewa. Efek saat menikmati karya sastra sangatlah dahsyat, karena fungsi karya sastra sendiri adalah dulce et utile, yaitu menghibur dan mendidik. Sebuah karya sastra juga merupakan cermin masyarakat, artinya bila kita membaca sebuah karya sastra, kita bisa mengetahui situasi dan kondisi masyarakat di daerah tertentu dan pada kurun waktu tertentu. Dari membaca karya sastra, kita bisa mengetahui sejarah atau budaya suatu masyarakat. Begitu pula karya-karya Pram yang beraliran realis-sosialis, karya-karyanya sangat monumental dan spektakuler.

Saya juga takjub dengan semua yang ada dalam diri seorang Pram. Dalam keterbatasan dan ketidakbebasan karena terkekang di dalam penjara, ia tetap menelurkan karya, bahkan lebih produktif. Bandingkan dengan kita! Kita mendapat fasilitas yang hebat dan canggih seperti laptop, namun apakah kita mampu menelurkan karya seperti Pram? Padahal Pram pernah tidak naik kelas tiga kali, bahkan dikatakan ‘goblok’ oleh ayahnya sendiri, namun Pram kini menjadi tokoh yang dikenang. Sedangkan kamu? Kamu adalah sarjana mungkin telah menjadi professor, lantas kontribusi apa yang kamu berikan pada bangsa ini?


0 comments
Labels:

Menembus Batas

Ketika hati mencintai namun jiwa dan raga tak sampai, akan terbersit sebuah rasa yang tak dapat diungkapkan. Rasa yang bergelora bagai lautan api yang membara, tiada habis-habisnya membakar apa saja yang ada di sekitarnya. Semua dilahap habis tak bersisa. Namun semua itu hanyalah pelampiasan saja. Ya, hanya sebuah pelampiasan yang tak kunjung reda.

Ketika hati mencintai dan ingin memiliki, namun tangan tak sampai? Padahal segala daya telah dikerahkan. Segala upaya telah dilakukan. Namun, semua itu terasa sia-sia sebab mungkin memang bukan takdirnya itu menjadi milik kita. Lantas, harus bagaimanakah kita? Kata salah satu sahabatku adalah "bersabarlah". Ya, dia benar. "Bersabar". Sabar adalah kuncinya. Bersabarlah kawan! Mungkin Allah akan memberikan sesuatu yang jauh lebih baik lagi. Tapi, kesabaran tak hanya diam, duduk menunggu. Bukan kesabaran yang seperti itu yang dimaksud. Kesabaran itu adalah sebuah penerimaan, namun kita harus tetap berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik, tidak hanya menunggu dan berpangku tangan. Katanya ingin menembus batas?

Batas apa yang ingin kau tembus? Batas langit? Batas bumi? Batas hijab? Batas kalbumu? Itu semua terserah padamu. Menembus batas adalah suatu cita-cita. Menembus batas sama saja meraih apa yang kita inginkan. Menembus batas fatamorgana misalnya. Seperti halnya mimpi di padang pasir, membayangkan setetes air sekedar membasahi kerongkongan yang kering. Fatamorgana, bukan? Namun itu semua akan menjadi nyata bila kita mampu menembus batas.

0 comments
 
Lautan Tintaku © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters