Labels:

Ketika Hati Terlalu Mencintai


Alkisah ada seorang akhwat yang terlalu mencintai seorang ikhwan. Akhwat itu begitu mencintai ikhwan tersebut. Setiap saat ia selalu memikirkan ikhwan tersebut. Ketika makan, ketika mau tidur, bahkan pas sholat akhwat itu selalu teringat pada ikhwan pujaan hatinya. Pasalnya, si ikhwan dahulu pernah mengucap cinta pada si akhwat, “Ukh, ana ukhibukifillah. Ana ingin menikah denganmu.” Tanpa pikir panjang si akhwat juga membalas, “Ana ukhibukafillah, Akh.” Setahun mereka bercinta-cintaan. Namun, tanpa sebab, tidak ada angin, tidak ada badai, bahkan tidak ada hujan, si akhwat seperti disambar petir. Hatinya meledak-ledak, jangankan menjadi keping-keping atau puing-puing, menjadi debu saja tidak. Hati si akhwat hilang ditelan petir dahsyat. Karena apa? Karena si ikhwan bilang pada si akhwat, “Ukh, afwan. Ana sudah tidak mencintaimu lagi. Lupakan janji-janjiku dulu untuk menikahimu. Aku sudah mencintai orang lain. Afwan.”
Bayangkan, ketika hatimu telah terpaut pada seseorang, ketika engkau terlalu mencintai seseorang dan orang itu telah menyatakan cintanya padamu lalu tiba-tiba orang itu mengeluarkan pernyataan bahwa dia telah mencintai orang lain? Apa yang bakalan kau perbuat? Pastinya engkau akan menangis, hatimu akan begitu terluka, terluka, dan terluka sangat dalam, sedalam-dalamnya. Lalu bagaimana kisah selanjutnya?
Selang beberapa bulan, si akhwat berlagak menerima keputusan itu di hadapan si ikhwan. “Ukh, afwan ya aku sudah melukai hatimu.” Si akhwat membalas dengan sok tegar, padahal hatinya meronta, matanya sembab oleh airmata, “Iya, tak mengapa. Memangnya siapa sich, akhwat itu, Akh?” Si ikhwan membalas dengan entengnya, “Sungguh, Ukh saat ini ana tidak mencintai seorang wanita pun kecuali ibuku.” Otomatis, si akhwat mulai berharap lagi pada si ikhwan. Hatinya sedikit terobati.
Suatu ketika, saat si akhwat ingin mengerjakan sebuah tugas, ia terpaksa meminjam laptop si ikhwan tersebut. Mungkin karena merasa bersalah juga, si ikhwan meminjamkan laptopnya pada si akhwat. Si akhwat menggunakannya untuk mendownload materi tugasnya, saat dibuka folder download ternyata ada  5 foto akhwat yang salah satu dari akhwat itu, ia kenal. Hati si akhwat mulai terbakar lagi, petir menyambar-nyambar lagi, rasa cemburu bergejolak lagi. Lalu si akhwat menanyakan hal ini pada si ikhwan, “Akh, pacarmu kok banyak banget? Lima akhwat. Woww.” Ikhwan itu sok tidak tahu, “Afwan, maksudnya apa ya? Ana tidak punya pacar.” Si akhwat pun menimpali, “Afwan, Akh. Tidak sengaja saya tadi membuka folder download, eh ternyata ada foto lima akhwat hasil downloadan juga. Cieee.” Si ikhwan mulai mengeles, “Ana hanya kagum dengan kecantikan mereka, Ukh. Sungguh tidak ada perasaan apa-apa.”
Gedubrak! “Ana hanya kagum dengan kecantikan mereka, Ukh.”
Visual. Ya, visual, pandangan memang rangsangan bagi seorang laki-laki. Laki-laki suka dengan kecantikan, apalagi wanita cantik, mereka pasti tergoda. Kecantikan kadang bisa menjerumuskan dan membuat banyak fitnah. Tapi bukan berarti, kita tidak boleh berpenampilan cantik.
Lanjuuuut!
Beberapa waktu yang lalu ikhwan itu bilang pada si akhwat, “Sungguh, Ukh saat ini ana tidak mencintai seorang wanita pun kecuali ibuku.” Tapi nyatanya? Ternyata pada waktu si akhwat lelah mengerjakan tugas, ia berniat menghibur diri dengan membuka situs jejaring sosial-facebook. Eh, malah facebook si ikhwan yang terbuka. Hati si akhwat mulai ketar-ketir lagi, hancur lebur lagi. Ia membaca dialog si ikhwan dengan seorang akhwat (salah satu dari lima foto akhwat tadi). Tak dikira, si ikhwan itu saking kagumnya dengan kecantikan si akhwat yang difoto, si ikhwan mengajak kenalan, mengajak kajian, meminta nomor handphone, dan mulai mendekati si akhwat yang difoto tadi.
Si akhwat menangis tersedu-sedu, hatinya tercabik-cabik oleh perasaan cinta yang menggebu, ia benar-benar sangat cemburu. Si akhwat serasa ditampar dengan sangat keras hingga ia harus terbangun dari tidur panjangnya yang melenakan. Ia terjaga, tersadar bahwa tak sepantasnya terlalu mencintai si ikhwan. Mulai saat itu, ia berusaha memanaj hatinya. Memang ia tak bisa melupakan si ikhwan, tak bisa berhenti mencintai si ikhwan walau hatinya telah hancur. Namun paling tidak saat ia terlalu mencintai ikhwan itu, ia ingat semua keburukannya. Ya, saat kita terlalu mencintai seseorang maka ingatlah keburukan orang itu segera agar engkau tidak terlena.
Kisah ini merupakan tamparan bagi semua akhwat. Kala cinta datang menggoda dan mulai mengetuk pintu hatimu, maka berhati-hatilah! Simpan saja cinta itu agar tidak merusak segalanya! Biarkan dirimu dan Allah yang tahu.

4 comments:

As Sayf said...

tulisan bagus

Novitasari Mustaqimatul Haliyah_DanZ said...

Terima kasih. Semoga bermanfaat...

Ashfiya said...

maaf, saya mau menambahkan sedikit..

menurut saya cerita ini menggantung. maksudnya, sekedar cerita tanpa ada solusi. jadi orang akan kesulitan mengambil ibrah dari kisah ini. atau mungkin hanya sekedar menambah wawasan (bahan obrolan) tanpa ada manfaat yg bisa diambil.

jadi, kenapa ini bisa terjadi? sebabnya apa? bagaimana solusinya? apa ibrah yg bisa diambil?

karena memang dari awal mereka berdua sudah salah, dalam hal saling bermu'amalah. dalam islam ada kaidah saddudz dzari'ah. yaitu menututup jalan2 yg hukumnya mubah yg bisa membawa kepada perkara yg haram.

kalau berbicara dengan lawan jenis bisa menimbulkan hal seperti itu, kenapa tidak menututupnya? (dengan tidak berbicara kpd lawan jenis hal2 yg gak penting).

kenapa akhwat suka pasang foto2? apa manfaatnya? bila dia sadar bisa membuka pintu syaithan. hijab itu fungsinya untuk menututup kecantikan kenapa malah dipamer2kan? bukankah dia sendiri yg membuka pintu syaithan?

itulah mengapa rasulullah memerintahkan para wanita untuk betah tinggal di rumah. tidak menampakkan diri. bahkan shalat wajib saja rasulullah memerintahkan shalat di rumah padahal kita tahu keutamaan shalat jama'ah plus di sana ada masjid nabawi yg keutamaannya 1000 kali dari masjid biasa tapi toh beliau tetap memerintahkan para wanita untuk shalat di rumah. inilah upaya islam dalam melindungi harga diri wanita, tapi sayang mereka kurang menyadarinya hingga terjadilah apa yg terjadi.

bila itu shalat yg amalannya sangat agung bagaimana dengan selainnya? ikhwan-akhwat kumpul jadi satu rapat, pinjem laptop atau melakukan aksi bareng2 turun ke jalan. tidakkah itu membuka pintu syaithan?

kenapa juga ikhwan berteman dengan akhwat di FB? jika dia tau akibatnya, bukankah itu membuka pintu syaithan?

allahu a'lam, masih banyak sebenernya yg mau dikatakan tp nanti malah jadi curhat. maaf..

Novitasari Mustaqimatul Haliyah_DanZ said...

Teruntuk Ukhti Cantik Ashfiya: Terima kasih komentarnya... Kritikan yang sangat membangun. Saya hanya mengkisahkan kisah nyata seorang remaja SMA. Insya'allah bisa diambil hikmahnya. Benar yang Anti katakan, bahwa memasang foto di jejaring sosial memang sebaiknya jangan, karena bisa menimbulkan "syahwat", "Fitnah" dan hal-hal yang tidak diinginkan. Lelaki (ikhwan) dalam cerita tersebut buktinya mendownload foto 5 akhwat yang berbeda-beda. Itu membuktikan bahwa memasang foto di jejaring sosial memang tidaklah pantas.

Hikmah yang kedua yang bisa dipetik: Bahwa ketika kita mencintai seseorang, maka janganlah tertalu berlebihan. Apalagi "dia" belum halal bagimu. Mungkin akan lebih baik jika kita menjaga hati, untuk tidak menyukai siapapun sebelum akad dilaksanakan.

Hikmah yang ketiga: Ikhwan-akhwat memang tidak bisa berdekatan sebelum pernikahan. Karena syaitan akan bisa menyerang dengan amat mudahnya, hingga timbul virus merah jambu. Dalam hal ini, ditekankan bahwa TIDAK ADA PERSAHABATAN DENGAN LAWAN JENIS.

Mungkin itu hikmah yang bisa dipetik dalam cerita ini. Terima kasih telah menambahkan ilmu kepada kami dan mungkin para pembaca cerita ini kelak. Jazzakillah, Ukhti.

 
Lautan Tintaku © 2012 | Designed by Canvas Art, in collaboration with Business Listings , Radio stations and Corporate Office Headquarters